Review Buku : Temanku Teroris?

Temanku Teroris Sebuah buku yang ditulis oleh seorang jurnalis muda. Noor Huda Ismail, yang pernah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Ngruki.

Penggambaran untuk suasana pondok pesantren ini tidak begitu mengagetkan saya. Tidur di lantai yang hanya beralas karpet, semua barang yang dipunyai harus masuk ke dalam lemari, makan nya setiap hari hampir selalu tahu, tempe dan daging yang hanya sesekali. Rasanya akrab sekali dengan ku, mengingatkan ku di saat bangku menengah atas :)

Adalah Noor Huda Ismail dan Fadlullah Hasan, 2 orang santri Ngruki. belajar hal yang sama, tetapi menempuh jalan yang berbeda ke depannya.

Fadlullah Hasan, masih inget dengan peristiwa bom Bali 12 Oktober 2002?  Ya, dan Fadlul tersangkut ke dalam kasus Bom Bali ini, bersama tersangka yang lainnya (seperti yang diceritakan di buku ini).  Hingga sekarang Fadlul masih berada di balik jeruji besi. Menjadikan 2 anak perempuan nya kehilangan sosok fisik seorang ayah. Noor Huda menjelaskan semua tentang bagaimana akhirnya Fadlul mendapat sebutan teroris. Bagaimana perjalanan Fadlul, yang tadinya ingin menuntut ilmu ke luar negeri, pergi ke Kairo, tempat dimana ilmu itu berasal yang menjadi impiannya dari kecil. Hingga akhirnya dia mendapat tawaran ke Pakistan, dengan pergi ke malaysia dulu.  Tetapi jalan lain yang akhirnya dia pilih. Jalan apa itu? Monggo dibaca bukunya yah :)

Bom Bali, digambarkan di buku ini menyisakan kehidupan yang pedih untuk banyak orang. Tidak hanya non muslim, tetapi juga para muslim. Membuat para istri kehilangan suaminya, seorang anak kehilangan bapaknya, dan para orang tua kehilangan anak-anaknya. Noor Huda juga menceritakan sekilas kehidupan Ukhti Titin (istri Fadlul) bersama 2 anak perempuannya. Selain Ukhti Titin, Noor Huda juga menceritakan kehidupan Mbak Laksmi (istri dari salah seorang korban Bom Bali, muslim) bersama 2 anak laki-lakinya.

Teroris, kerap kali kita dengar, dan pasti disangkutkan dengan Jihad dan Islam. Semua diikutkan, digeneralisir. Dianggap seolah pondok pesantren adalah tempat-tempat yang menghasilkan para teroris. Buku ini mungkin menjadi salah satu contoh yang mengelak atas semua pemahaman umum yang terjadi sekarang, Noor Huda, yang seorang lulusan pondok pesantren tidak lantas menjadi “teroris” seperti apa yang orang bilang. Dia memilih jalan hidupnya sendiri. Tetapi sayangnya, pesan ini agak kurang tersampaikan oleh Noor Huda :(

Benar jika dibilang bahwa di buku ini Noor Huda mengangkat kisah dirinya dan Fadlullah Hasan dengan empati dan simpati, menyisakan perenungan tentang terorisme, jihad Islam dan arti sebuah persahabatan.