#28 5 Pesan Damai : Lebih Dekat dengan Ajaran Nabi – vbi_djenggotten

5 Pesan Damai Berbicara tentang jihad tak lantas membuat buku ini berat. Sangat ringan tapi jleb jleb, percayalah🙂

Buku komik – grafis. bagus.

Jihad adalah ketika seorang muslim mencurahkan usahanya untuk melawan keburukan dan kebatilan. Dimulai dengan jihad terhadap keburukan yang ada di dalam dirinya dalam bentuk godaan syaitan, dilanjutkan dengan melawan keburukan di sekitar masyarakat, dan berakhir dengan melawan keburukan di mana pun, sesuai dengan kemampuan. Jihad tidak selalu diwujudkan dalam perang🙂

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari buku ini. Saya jamin anda tidak akan menyesal jika membeli buku ini😀

Reminder untuk para calon ibu :)

Dapet dari milist tetangga🙂

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama ummat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam mencari pahlawan Indonesia: “ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (hiduplah mulia, atau mati syahid!),”kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata2 Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang Badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.tak lama kemudian ia diterima rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghapal Al Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris Wahyu. Karena itu, namanya akrab di telinga kita hingga kini : Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk sholat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadist dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendo’akan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendo’akan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdo’adi depan anaknya : “Ya Allah Tuhan yang meguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu, Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan rasulMu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”. Do’a-do’a itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya : Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi bu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita – cita. Seperti Ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi Imam masjidil haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ubu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak nakanya kecil telah menuliskan ‘kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti ketrampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doctor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

#27 Sewindu – Tasaro G.K.

SewinduJudul : Sewindu

Penulis : Tasaro G.K.

Penerbit : Tiga Serangkai

Tasaro, nama ini memang sudah tidak saya ragukan lagi. Bukunya Kinanthi Terlahir Kembali dan Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan cukup membuat saya percaya bahwa apa yang akan dia tulis dibawakannya dengan tak biasa. Padahal mungkin hal itu sangat sederhana. Dan ini menurut saya.

Sewindu, ternyata tak hanya berisi tentang kehidupan 8 tahun pernikahan Tasaro dengan sang istri. Sewindu menceritakan lebih dari itu, kehidupan Tasaro yang lebih luas. Cerita tentang keluarganya, tentang sahabat, tentang dunia kepenulisan yang dimasukinya. Tentu hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang awalnya berpikir buku ini akan berkisah tentang diary pernikahan selama 8 tahun saja. Ah, dan saya mendapatkan lebih dari itu ^^

Tasaro, kisahmu beserta Sang Istri yang tidak tinggal seatap dalam setahun awal pernikahan (antara Bandung dan Cirebon) ini membuatku tertarik. Kenapa? Karena hal ini juga tengah saya dan suami alami. Saya di Pasuruan dan suami Banyuwangi. Dan setiap akhir pekan kami baru bertemu di Surabaya. Meskipun baru 3 bulan tapi luar biasa beratnya. Rasanya ada yang belum utuh bagi kami.

Saya suka dengan kisah demi kisah yang Tasaro dan istri alami dalam kehidupan rumah tangganya. Kisah Rp 15.000,00, Titik membuatku sedikit terkesima. Bagaimana istrimu begitu lihai membagi penghasilan yang kau berikan untuknya ke dalam pos-pos tertentu. Dan saya juga tertawa kecil ketika membaca bagaimana ekspresimu yang dengan bangga ketika melihat namamu tertera dalam tagihan listrik untuk pertama kali. Tak hanya itu, judul Saat Dia Tak Ada pun membuat saya terdiam euy.

“Ah betapa entengnya saya melewatkan waktu dan tak berpikir begitu beratnya istri menekan rasa, menjejali waktu dengan apa yang bisa ia lakukan di rumah. Saya lebih sering terjebak pada pemahaman jamak bahwa sebagai suami, sayalah yang paling lelah, sayalah yang paling membutuhkan perhatian, pijatan, pengertian, dan segalanya” hal 55

Kembali ingin saya sampaikan, buku ini inspiring sekali. Banyak yang akan anda petik kalo membacanya. Tasaro sebagai seorang anak, menantu, dan kini dia menjadi bapak untuk anaknya. Inilah yang menjadikan buku ini layak dibaca oleh siapapun, tidak hanya yang sudah menikah.

“Memahami kekurangan suami atau istri adalah sebuah fase mencengangkan. Sedangkan, menerima kekurangan itu kemudian mengusulkan kompromi logis untuk sebuah tahap yang spektakuler. Saya sangat menghargai proses ke arah itu” hal 79

Tasaro, kisahmu dengan bapak mu yang berada di Gunung Kidul membuatku sedikit haru ternyata. Perjuangan Ummi mu sempat membuatku meneteskan air mata. Begitupun tentang meninggalnya Ummi mu. Ah, semoga kami bisa selalu membahagiakan orang tua kami, membuatnya mulia di surga kelak dengan anak-anaknya yang salih dan shalihah🙂

Overall, buku ini bagus. Tapi harganya mahal yah?😀 Mungkin bisa jadi karena ilustrasi-ilustrasi berwarna yang ada di buku ini yang membuatnya mahal. Tapi kalo untuk investasi, wajarlah kita harus mengeluarkan lebih untuk banyak manfaat yang akan kita dapatkan^^ Satu lagi, kenapa buku ini susah sekali saya dapatkan di Toga mas Surabaya yah?

“Sewindu, delapan tahun, adalah waktu yang bisa jadi lama atau sebentar. Tapi, bagi saya, itu rentang waktu yang cukup untuk menimbang cinta. Mengalami banyak hal bersama Mimi, menyikapi setiap permasalahan, mencari solusi, dan menjalani paket kehidupan yang berbagai-bagai warna dan rasa, memunculkan sebuah konklusi: cinta itu tentang waktu” hal 378

Selamat menikmati buku yang renyah ini. Salam🙂

#26 Pintu Harmonika – Clara Ng & Icha Rahmanti

Pintu HarmonikaYep, buku pertama Clara Ng yang saya baca😀 Apa yah? Saya mau bilang bahwa novel ini punya cover yang manis sekali, sangat. Itu yang awalnya bikin saya memutuskan membelinya. Ah, pokoknya baguuus deh covernya. Di samping itu, rating goodreads kok tampaknya juga baguuus. Oke, deal. Saya memasukkan ke dalam keranjang belanja saya🙂

Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Ya, itu juga potongan kalimat dalam buku ini yang membuat saya optimis harus mempunyai buku ini. tapi, udah ah ntar kepanjangan kisahnya kenapa beli buku ini. Mba Clara & Mba Icha, saya tak menyesal membeli buku ini, sungguh🙂

Adalah Rizal, Juni, David. Buku ini berisi 3 jurnal dan catatan harian yang mereka tulis. Ketiganya dipertemukan di kompleks Ruko Gardenia Crescent. Dan buku ini menceritakan kecintaan mereka dengan sebuah tempat yang mereka sebut “Surga”. Kamu tahu Surga itu apa? tanah kosong yang ada di komplek mereka, yang ditumbuhi rumput liar, logikanya ga banget kan tempat seperti itu di sebut Surga? Ah tapi ternyata itu tidak benar.

…Setiap berada di situ, gue merasa bebas dan damai. Bukan cuman gue, tapi demikianlah arti tanah kosong buat teman-teman yang kemudian menjadi seperti adik-adik gue sendiri, Juni dan David. Di sana, walaupun nggak selalu main bareng, kami membentuk ikatan yang sulit diceritakan. Kami seolah mengerti satu sama lain dan saling menyayangi…

Dan suatu hari, kecintaan mereka terhadap Surga terusik akibat sebuah papan yang terpasang di sana serta bertuliskan “Dijual”. Ya, dan mulailah aksi mereka untuk menyelamatkan Surga nya. Mulai dari menjatuhkan plang yang ada, mengganti dengan tempelan penawaran badut, dll…

Mba Clara & Mba Icha, kembali saya sampaikan. Saya merasa terhibur dengan cerita mereka di buku ini. tapi kok rasanya “tanggung” yah, entahlah. Itu yang saya rasa. dan rasanya keakraban mereka ber3 kurang dibahas di buku ini🙂

Meskipun berasa tanggung, tapi saya berhasil menamatkan novel ini. Dan saya mulai enjoy dengan jurnal ke-tiga dari sudut pandang David? Kenapa gitu? Yang belum baca, silahkan baca bukunya yah🙂

Novel yang mengandung tema keluarga ini sempet membuat saya sempat berkaca-kaca di bagian akhirnya. Ah benar-benar tidak menyangka…

Bintang 3 untuk kisah di buku ini. Aksi penyelamatan Surga dan kecintaan mereka kepada keluarga🙂

Perjalanan ke Atap Dunia – Daniel Mahendra

Perjalanan Ke Atap DuniaJudul : Perjalanan ke Atap Dunia

Penulis : Daniel Mahendra

Penerbit : Medium

Dari dulu, saya sangat menyukai buku-buku traveling. Dalam bentuk apapun. Padahal saya hampir jarang banget treveling euy #curhat. Entahlah, rasanya ikut menikmati perjalanan demi perjalanan yang dirasakan orang lain. Apalagi kalau pemaparannya baguuus, membawa kita ke dalamnya, seperti buku ini🙂

Ya, saya mengenal buku ini dari senior kantor. Katanya buku ini bagus. Jadilah penasaran saya baca. Dari awal membaca buku ini, saya langsung sukaaak #pake “k” pula ya sukanya😀 Bang Daniel membuat buku ini untuk orang-orang yang berani memperjuangkan mimpi masa kecilnya loh. Langsung deh ngaca, apakah kita sudah berjuang untuk mewujudkan mimpi? Atau membiarkannya saja bersemayam di angan-angan, menunggu Tuhan menjawab dan pasrah?🙂

Adalah Bang Daniel (saya sebut “Bang” saja deh), dari kecil sudah berkeinginan pergi ke negeri atap dunia, Tibet. Berkali-kali membaca komik Tintin di Tibet, berkali-kali menonton film Seven Years in Tibet, dan terus saja bertanya-tanya: apakah mungkin dia bisa pergi ke Tibet?

Beberapa kali pernah kutulis di dalam blog pribadiku tentang keinginanku pergi ke Tibet. Tetapi kapan? Aku tak pernah bisa menjawabnya. Kuinsafi: keinginan mengunjungi Tibet ternyata hanya angan. Bukan sesuatu yang konkret. Adalah betul aku pernah menuliskannya. Artinya, tidak semata angan yang mencelat melalui lisan. Tetapi sudah kutuliskan. Namun tetap saja: meski sudah pernah ditulis, semua itu tanpa pengejawantahan.”

Bang Daniel mengajarkan banyak hal di sini. Meraih mimpi itu terkadang harus menghadapi tantangan demi tantangan, tidak melulu berjalan mulus bak jalan tol. Begitupun dengan Bang Daniel dalam mempersiapkan perjalanannya ke Cina ini. Ah, saya seperti turut serta dalam perjalanan ini. Memelototin harga pesawat tiap waktu untuk mendapatkan harga yang murah, tidur di bandara, berhari-hari di kereta menuju Lhasa. Semua saya rasakan pokoknya😀

Tapi tapi tapi, bukan yang indah indah aja loh baca buku ini. Saya sempat kecewa, tau kenapa? Ah, ekspektasiku terhadap Tibet tinggi sekali sebelumnya. Sama seperti tweet saya ke Bang Daniel “saya tidak pernah menyangka bahwa Tibet akan seperti apa yang anda gambarkan di buku ini.” Dan jawaban Bang Daniel “Apa boleh buat: tak selamanya impian berbanding lurus dgn kenyataan. Tetapi untuk mengetahui hal itu, kita harus membuktikan.” seperti apa itu? tentu anda semua harus membaca buku ini!!!

Ketika keinginan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. – hal 114

Hal yang paling saya suka adalah melihat gugusan Himalaya yang dipenuhi salju. Ah, tampaknya awesome sekaliiii #ngebayangin terus mupeeeng🙂

Oiya, ada satu lagi yang ku suka. Bertemu dengan orang-orang baru tampaknya menyenangkan sekali🙂 Seperti bertemu saudara sendiri. Seperti hal nya ketika Bang Daniel bertemu dengan Juan, si pemuda dari Amerika Latin. Juan yang seorang perokok berat bisa benar-benar stop menjadi perokok, padahal mungkin semua orang tau bahwa dalam praktiknya berhenti merokok itu tidak semudah yang dibayangkan #konon. Dan Bang Daniel pun menanyakan itu karena dia juga seorang perokok. Kata Juan “Aku tahu. Memang nggak mudah. Berat. Sangat berat. Tapi ketika kita konsekuen dengan keputusan kita, segalanya bisa kalo kita mau. Yang kita butuhkan hanya keberanian kok.” Ah, andai banyak orang yang bisa berpikir seperti ini, mungkin saya tak akan pernah sesak napas di bis yang penuh asap rokok #curhat😀

Itu hanya salah satu dari sekian banyak hal menarik di buku ini. Well, silahkan baca sendiri buku ini. Cina, Tibet, Nepal dan saatnya kini kita pulang ke Tanah air tercinta🙂

“Masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah kemanapun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu. Tetapi pada saatnya tiba jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah… Kelak istri dan anak-anakmu di rumah adalah harta sebesar-besarnya yang kamu miliki”

Seribu Malam Untuk Muhammad – Fahd Djibran

Seribu Malam Untuk Muhammad Judul : Seribu Malam Untuk Muhammad

Penulis : Fahd Djibran

Penerbit : Kuriniaesa Publishing

“Apakah yang lebih besar dan lebih utama dari iman?”
Aku masih mengingat kata-kata itu, Azalea. Aku masih mengingat wajahnya : Muhammad, dengan senyum yang tulus.
“Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “Melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”

Ya, dan itulah awal  kisah dari buku ini. Bermula dari tokoh “aku” yang didatangi lelaki agung dan bercahaya, Rasulullah, di dalam mimpinya. Dan “aku” adalah seorang non-muslim. Apa yang anda pikirkan? Bertemu dengan Rasulullah adalah impian umat muslim seluruh dunia, bahkan saking ingin bertemunya dengan Rasulullah, seseorang sampai berupaya melakukan ritual tertentu.

Novel ini sebenarnya adalah surat setebal 100 halaman yang diberikan oleh “aku” kepada Azalea, kekasihnya. Surat tentang mimpi dan pencariannya tentang tokoh Muhammad. Mimpi yang tak bisa dilupakan hingga detail nya. Semakin berusaha untuk dilupakan semakin baik mimpi itu muncul di ingatannya. Seseorang yang menurut “aku” tak pernah dikenal sebelumnya, tak  pernah ada di pikiran sebelumnya, tetiba datang di mimpinya. Mimpi yang akhirnya membuatnya memulai perjalanan panjang untuk mencari siapa Muhammad, meninggalkan keluarga hingga kekasihnya, Azalea.

Jujur, bergetar rasanya membaca novel ini. Tokoh “aku” menanggapi mimpinya dengan sangat serius. Mimpi, yang menurut kita adalah bunga tidur semata, tetapi tidak bagi “aku”. Pencariannya tentang Muhammad diawali dengan masa-masa ditetapkannya islam menjadi agama yang sempurna untuk umat manusia, tepatnya dimulai ketika Rasulullah melaksanakan haji wada’ bersama para sahabat. Disusul dengan sakitnya Rasulullah menjelang wafat.

“aku” juga menceritakan tentang kisah Ukasyah yang ingin menuntut qisas kepada Rasulullah karena di perang Badar atas terkenainya lambung kiri Ukasyah dengan cambuk Rasulullah. Rasul pun melepaskan ghamisnya dan tersingkaplah tubuh suci Sang Nabi. Ah, semua sahabat menangis pedih, mereka tak ada yang sanggup melihat manusia yang mulia itu disakiti. Tetapi tahukah apa yang terjadi ketika Rasul sudah melepas ghamisnya? Ukasyah menghambur memeluk tubuh Muhammad sambil berucap sendu “Tebusanmu, jiwaku wahai Rasulullah. Siapakah yang sampai hati meng-qisas manusia dengan perangai paling indah sepertimu? Sesungguhnya aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu, hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari siksa api neraka”

Dan tokoh “aku” entahlah menghabiskan berapa ratus buku untuk mencari seperti apa sosok Muhammad. Berbincang dengan berapa orang untuk mengetahui sosok Muhammad. Luar biasa. Malu, malu sekali rasanya membaca buku ini. Saya yang sudah islam sejak dilahirkan, kenal nama Muhammad sejak mulai bisa mengingat Nabi & Rasul, tetapi usaha untuk mengenal Muhammad tampaknya sangat jauh jika dibandingkan “aku” yang non muslim.

Saya tercengang dengan surat “aku” tentang mengapa banyak teman kita menghina Muhammad Sang Nabi? Ya, cobalah tanyakan kepada diri kita, sudah sejauh apa kita mengenal Muhammad. Barangkali mereka mendapatkan cerita yang keliru tentang Muhammad. Atau, paling tidak barangkali mereka keliru memahami cerita tentang Muhammad.

Ah, luar biasa buku ini. Terimakasih Fahd Djibran sudah membukukan surat ini dalam sebuah buku. Ummat patut untuk membaca buku ini. Dan kerinduan akan Muhammad menjadi sebuah keinginan kuat di qalbu. Semoga kita senantiasa bisa meneladani sikap terpuji Rasulullah tercinta. Marilah berbuat kebaikan, seperti apa kata surat ini🙂

“Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama dan sekular” [Michael H. Hart, The 100 : A Ranking Of The Most Influential Persons in History]

Aku masih mengingat saat-saat ketika punggungnya menjauh, menjauh, terus menjauh, menjelma sunyi yang bergaung dalm hatiku… Muhammad, Muhammad, Muhammad…

Buku ini memang tidak menceritakan apakah si “aku” akhirnya mengubah keimanannya. Tetapi, ada yang jauh lebih penting dari itu. Bagaimana kita bisa menjadi manusia islam yang jauh lebih baik dibanding sekarang?

Kadang-kadang agama hanya semacam identitas yang semu, selama kita tak (bisa) memaknainya dengan baik. kita harus mengakui kenyataan itu. Siapapun berhak mencintai Muhammad. Muhammad adalah kebaikan dan rahmat bagi selurus semesta.

Surabaya – Banyuwangi itu jauh, Jendral!

Ah, kau tau kawan? Dulu, aku tak pernah bermasalah dan tak pernah risau dengan kota di ujung timur pulau Jawa ini. Bahkan, terpikir aja tidak sebelumnya. Aku tak pernah tahu bahwa kota itu amat jauh, sekali lagi bagiku. Dan yang pasti teruntuk suamiku juga. Yang ku tahu, dia ada di provinsi Jawa Timur juga. Tetapi, Surabaya – Banyuwangi itu jauh, Jendral!!!

Hingga pada suatu saat, nama kota itu sampai ke telingaku.  Berawal dari “penempatan” di perusahaan suami, memilih penempatan Bojonegoro atau Banyuwangi? Haa, waktu itu ketika dia meminta sedikit pertimbangan kepadaku, aku hanya berpikir bahwa kerjaku di Pasuruan, Banyuwangi kan searah dengan kota tempat kerjaku. Pasuruan terus saja ke Timur. Sedangkan kalo di Bojonegoro, aku mikirnya, dia di Barat sedang aku di Timur. Sekilas tampak lebih praktis memilih Banyuwangi. Tetapi itu pemikiranku dulu, tidak sekarang. Mencoba khusnudzan, akan ada banyak pelajaran di sini🙂

Kau tau kawan? Bis ke arah Timur itu memang banyak. Tetapi hanya sampai di kota Jember. Ya, banyak sekali bus patas yang hanya sampai ke Jember. Untuk yang ke Banyuwangi, memang ada, tetapi jarang dan amat tidak fleksible pemirsa. Begitupun dengan angkutan kereta api nya.

Hari Jum’at adalah hari yang saat ini paling ku nanti, karena itu adalah hari dimana dia pulang dari Banyuwangi. Dan sebaliknya, kalo sudah masuk hari Minggu, rasanya beraaat di hati. Itu artinya kami harus berpisah lagi.  Ah, sekali lagi itu menyedihkan, kawan. Mungkin ini juga yang kalian rasakan ketika kalian harus berjauhan dengan suami or istri. Tetapi, sekali lagi ku katakan. Ini juga bagian dari pilihan. Ketika istri memilih untuk bekerja juga, berbeda lagi jika istri  tidak terikat dengan aturan baku dari suatu kantor.

Semoga Allah siapkan kemudahan setelah ini. Mungkin kita harus belajar bersyukur suami sayang, mungkin ada lagi yang jauh tak seberuntung kita bisa bertemu setiap akhir pekan. Ku titipkan kamu pada-Nya. Raih ridho-Nya. Kita masih berada di bawah langit yang sama🙂

*Catatan yang ku bikin karena melihatmu harus ke terminal sebelum Shubuh untuk mencari bis ke kota tujuan, tetapi bis yang dicari pun tak ada.