Sedikit Tentang Pinjam Meminjam (Ariyah)

kembali lagi dalam episode curahan hati.

Siapa yang suka koleksi buku?

Siapa yang bukunya pernah dihilangkan orang lain?

Sejak kecil buku adalah duniaku, buku adalah segalanya, semua buku membuatku jatuh cinta. Jika stress apa yang akan kalian lakukan? ngemall, tidur, jalan-jalan? Kalo saya daridulu gampang, cukup pergi ke toko buku, duduk disana berlama-lama, bahkan sehari juga betah. pulang membawa satu or beberapa buku. tidak ada perasaan berat jika harus meminjamkan buku kepada orang lain, sungguh, silahkan bawa-bawa aja kalo mau baca. daridulu selalu seperti itu. Justru senang jika buku itu bermanfaat buat orang lain. Mungkin baru itu yang bisa kulakukan untuk orang lain. Tolong menolong dalam kebaikan.

Tetapi, pinjam meminjam (Ariyah) juga punya adab yang harus dipenuhi oleh si pemilik dan si peminjam.  Untuk sahnya ‘ariyah ada empat syarat yang wajib dipenuhi :
1. Pemberi pinjaman hendaknya orang yang layak berbaik hati. Oleh karena itu, ‘ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang ditahan hartanya tidak sah.
2. Manfaat dari barang yang dipinjamkan itu hendaklah milik dari yang meminjamkan. Artinya, sekalipun orang itu tidak memiliki barang, hanya memiliki manfaatnya saja, dia boleh meminjamkannya, karena meminjam hanya bersangkut dengan manfaat, bukan bersangkut dengan zat.
3. Barang yang dipinjamkan hendaklah ada manfaatnya. Maka tidak sah meminjamkan barang yang tidak berguna. Karena sia-sia saja tujuan peminjaman itu.
4. Barang pinjaman harus tetap utuh, tidak boleh rusak setelah diambil manfaatnya, seperti kendaraan, pakaian maupun alat-alat lainnya. Maka tidak sah meminjamkan barang-barang konsumtip, karena barang itu sendiri akan tidak utuh, seperti meminjamkan makanan, lilin dan lainnya. Karena pemanfaatan barang-barang konsumtip ini justru terletak dalam menghabiskannya. Padahal syarat sahnya ‘ariyah hendaklah barang itu sendiri tetap utuh.

Pinjam meminjam merupakan pemberian manfaat tanpa imbalan. Bila peminjam telah memegang barang-barang pinjaman, kemudian barang tersebut rusak, maka ia berkewajiban menjaminnya, baik arena pemakaian yang berlebihan maupun karena yang lainnya.

Rasulullah SAW. Bersabda:
Pemegang kewajiban menjaga apa yang ia terima, hingga ia mengembalikannya”.

Kawan, bukan masalah besar sebenarnya. Hanya curhatan sajo. Bukuku awalnya dipinjam si A (tentunya dengan syarat jangan sampai rusak apalagi hilang), tetapi kemudian ketika aku membutuhkannya tiba-tiba buku itu dibilang ada di orang B atau bahkan orang C. Dan ini tidak cuma sekali terjadi.  Meminjam milik orang lain itu tentu sebuah amanah, artinya si pemilik sudah percaya kepada si peminjam untuk pegang bukunya. Jadi janganlah sampai kita meminjamkan lagi barang tersebut ke orang lain tanpa seizin si pemilik (masih bisa dimaklumi apabila si peminjam pertama terus control dimana posisi buku, tetapi kalo bodoh amat tentu ini dilarang).

Sebuah buku kesayanganku, salah satu dari buku favoritku, hilang entah kemana. Ditelusuri ke si peminjam dibilang dipinjam si fulan, fulan bilang dipinjam ke fulani, tak berujung. Buku itu tentang persaudaraan, yang berisi renungan-renungan sederhana tentang bagaimana membangkitkan kembali kekuatan ummat yang hari ini terserak-serak bagai buih tak berarti. Di sini, kita menginsyafi bahwa iman berbanding lurus dengan kualitas hubungan yang kita jalin pada sesama. Juga bahwa tiap hubungan yang tak didasari iman akan jadi sia-sia. Dan baik iman maupun ukhuwah, memerlukan upaya untuk meneguhkan dan menyuburkannya. Itulah buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Salim A. Fillah

Sedang mencari buku itu sekarang, yang ternyata sudah sangat jarang. Sungguh, ga mungkin marah saya ke si peminjam, untuk apa? Hanya saja mungkin kita perlu menyampaikan perbaikan kepada si peminjam agar next time ga sampe terulang. jangan biarkan juga si peminjam kapok untuk meminjam kepada kita.

Mari lebih hati-hati dalam pinjam-meminjam kawan, jangan meremehkan urusan ini. Menjaga amanah lewat pinjam meminjam🙂