Edisi senda gurau #Tazkiyatun Nafs

Siapa yang tidak suka bercanda? Ngacung….

Mengingat hampir setiap hari tak lepas darinya, membaca sajiannya Sa’id Hawwa edisi senda gurau, rasanya begitu banyak yang tampaknya kurang diperhatikan terutama diriku sendiri. Asyik dengan senda gurau kita, yang tanpa peduli terkadang itu menyakiti orang lain. Tapi terus saja kita terlena dengan senda gurau.

Pada dasarnya, bersenda gurau itu trecela dan dilarang kecuali dengan porsi yang sedikit. Rasulullah bersabda :

“ Janganlah engkau debat saudaramu dan mencandainya”

Bersenda gurau itu saling berbaikan dan itu mendatangkan kegembiraan serta menunjukkan baiknya hati, kenapa bias dilarang? Sesungguhnya, bersenda gurau itu dilarang apabila berlebih-lebihan atau berkelanjutan. Bersenda gurau secara berkelanjutan (mudawamah) itu dicela karena menyibukkan dengan permainan dan ketidakseriusan.

Berlebih-lebihan dalam bersenda gurau akan menimbulkan banyak tertawa dan terlalu banyak tertawa akan mematikan hati. Dalam keadaan tertentu hal itu akan menimbulkan penyakit dendam serta menghilangkan wibawa dan ketenangan. Maka setiap senda gurau yang terlepas dari itu semua tidak dianggap sesuatu yang tercela sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau pernah berkata,

”Sesungguhnya aku juga bersenda gurau dan aku tidak mengatakan sesuatu melainkan yang benar”

Tahukah, bahwa tertawa yang berlebihan juga akan menunjukkan kelalaian terhadap akhirat. Rasulullah saw bersabda :

Jika kamu mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kamu akan sering menangis dan jarang tertawa”

Adapun Abdullah bin Abu Ya’la bertutur, “Apakah Anda tertawa sedangkan kain kafanmu sudah keluar dari pabrik?” Muhammad bin Wasi’ berkata, ”Jika engkau melihat seseorang menangis di dalam surga, apakah anda heran dengan tangisannya?” Ada yang menjawab,”Ya”. Lalu dia berkata, “Orang yang tertawa di dunia, sedangkan ia tidak tahu kemana ia akan kembali, lebih mengherankan dari itu.” Ini merupakan bahaya lidah dan yang dicela adalah larut dalam tertawa. Sedangkan yang terpuji adalah senyum yang memperlihatkan gigi dan tidak ada suara. Begitulah tertawanya Rasulullah saw.

Senda gurau juga bisa menyebabkan hilangnya wibawa telah dikatakan Umar r.a, “Barangsiapa yang bersenda gurau akan diremehkan.” Umar bin Abdul Aziz r.a, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan hati-hatilah dengan senda gurau sebab itu akan menimbulkan dendam dan menyeret seseorang kepada kehinaan. Berbicaralah dengan Al-Qur’an dan bertemanlah dengannya.”

So, marilah berbenah bersama dari sekarang. Bercanda, seperlunya, dan tidak menyakiti hati orang lain 🙂