ibuk,

Punya buku seperti gambar tersebut? Jujur, baru pertama kali ini saya baca tulisan Iwan Setyawan. Seolah berjalan lurus, itu komen saya. Tapi penulis selalu menyisipkan kata – kata sarat makna dan motivasi, mungkin ini yang menurut saya sebagai pembaca. Buku ini tidak terlalu banyak konflik tapi anehnya bisa menggugah emosi. Mungkin tanpa sadar, hal ini karena kita dekat dengan kehidupan yang seperti itu.

Awalnya sempet jengah dengan bab awal buku ini, yang mengisahkan kisah percintaan antara orang tua penulis. Tetapi, untung Iwan masih berhasil membuat saya bertahan untuk melanjutkan kisah lanjutan buku ini. Dan memang benar, kisah percintaan itu hanya sebagai pengantar saja. bagaimana seorang perempuan berusia 17 tahun yang putus sekolah sudah mulai dicarikan jodoh karena dinilai sudah cukup usia nikah. Hingga akhirnya perempuan ini bertemu dan menaruh hati kepada kenek angkot. Dan pernikahan mereka pun diawali dengan sebuah pertanyaan Sim (kenek angkot) kepada Tinah “Nah kamu mau ngga hidup susah sama aku, kita hidup…” *lanjut sendiri dengan baca bukunya ya

Iwan sungguh menuliskan novel ini dengan bahasa yang sederhana ku pikir, sesederhana kehidupan orang tuanya yang dengan gigih memperbaiki nasib. Sim (bapak) dan Tinah (ibuk) mempunyai 5 orang anak : Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira. Dalam kondisi yang susah pun, ibuk bertekad bahwa kelima anaknya harus sekolah, jangan sampai seperti dia, lulus SD pun tidak.

“Sampai saat ini, aku masih terngiang kata-kata Ibuk kepada Mbak Isa. Cintanya melahirkan tekad untuk kehidupan yang lebih baik, untuk anak-anaknya. Agar anak-anaknya tidak melalui jalan hidup yang sama dengan jalan hidup yang telah ia lalui dahulu.”

Itulah tekad seorang ibuk untuk anak-anaknya. Sementara pekerjaan bapak pun tidak semulus yang dibayangkan. Setelah menikah bapak menjadi sopir angkot. Dengan hasil yang pas-pasan, dan tidak jarang harus meminjam uang. Tapi ibuk tidak pernah menyerah. Selalu irit dalam mengelola keuangan, bagaimana biar kebutuhan sekolah anak – anak nya terpenuhi. Bahkan terkadang, kondisi yang parah adalah ketika angkot bapak mogok, dan membutuhkan uang yang lebih untuk memperbaikinya. Bisa membayangkan kondisi itu?

“Mungkin, anak-anak ini melihat kesungguhan hati orangtua mereka yang telah berjuang tak kenal lelah untuk lima anaknya. Mungkin, anak-anak ini telah merasakan keringat bapaknya menetes di kulit mereka. Mungkin, cinta Ibuk telah memasuki darah mereka, lewat bubur beras merah dan sinar matanya yang syahdu…. Isa dan adik-adiknya ingin berjuang seperti mereka. Ingin memberikan cinta yang penuh kepada orangtuanya.”

Kehidupan yang sangat berat. tapi mereka selalu bergandeng tangan dalam mengatasinya. Tidak pernah berhenti berjuang. Sebuah pelajaran yang amat sarat makna dari sebuah keluarga yang tinggal di sebuah gang buntu. Tidakkah lantas ini mengingatkan kita pada ibu bapak kita di rumah, betapa besarnya perjuangan mereka untuk anak – anaknya, bahkan bisa saya pastikan bahwa setiap orang tua pasti akan rela hidup jauh lebih menderita asalkan kebutuhan anaknya bisa tercukupi.

Coba kita baca kutipan yang saya ambil dari buku berjudul “ibuk” ini :

“Malam itu, Bayek berjanji menulis sejarah keluarga buat keponakan-keponakannya. Agar mereka tidak terputus dengan sejarah keluarga, agar mereka tahu perjuangan kakek, nenek, dan ibu-bapak mereka. Agar mereka lebih menghargai hidup yang mereka lalui sekarang. Agar mereka lebih mencintai ibu, bapak, dan kakek-nenek mereka.”

Betapa Bayek memahami perjuangan ibu bapaknya. jatuh bangunnya orang tuanya untuk membawa kesuksesan anak – anaknya. Hingga mampu membawanya ke sebuah negara adidaya, New York, Amerika Serikat. Seorang anak yang terlahir dari gang buntu tapi bisa menembus kesusahan yang selalu menghampirinya.

Dari novel ini, tidakkah kita merasa seolah diingatkan dengan lebih keras untuk senantiasa menghormati mereka, cintai mereka, karena mereka layak mendapatkannya dari anak – anaknya? Bismillah mulailah introspeksi. Minta maaf untuk tingkah kita yang pernah membuat sesuatu yang tidak berkenan di hati mereka.