Bidadari – Bidadari Surga

Perjuangan seorang kakak untuk adik – adiknya, seorang kakak yang tidak pernah rela adik – adiknya menderita. Itulah Laisa yang berjuang untuk keempat adiknya Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta.

Hidup di sebuah lembah Lahambay bersama Mamak mereka. Tumbuh besar tanpa Babak (Ayah) mereka, tak lantas membuat Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta menjadi anak – anak tanpa masa depan. Laisa dengan janji sepenuh hatinya memenuhi pesan babak sebelum ditemukan tidak bernyawa dalam kondisi badan yang penuh dengan cakaran, Laisa akan menjaga adik – adik dan juga Mamak. Berhenti sekolah demi kelanjutan sekolah adik – adiknya.

Saya tidak akan menceritakan dengan utuh apa isi buku ini, itu hanya akan menciptakan spoiler. Laisa mengisi hari – harinya dengan kerja keras, tidak pernah mengeluh sedikitpun. Apalagi di depan adik – adiknya. Dalimunte yang di usia 12 tahun mampu membuat rangkaian kincir air yang nantinya menjadi cikal bakal kemakmuran kehidupan Lembah Lahambay. Ikanuri dan Wibisana, 2 sigung nakal yang malas disuruh sekolah (berbeda sekali dengan kakanya, Dalimunte), Yashinta cantik yang sangat suka dengan alam dan selalu penasaran dengan apa yang terjadi di alam.

Perjuangan Lais yang begitu besar membawa kesuksesan yang luar biasa untuk adik – adiknya. Tahun berlalu. Dalimunte menjadi seorang profesor di bidang Fisika, menciptakan teori bahwa “bulan itu terbelah”. Ikanuri dan Wibisana menjadi pengusaha yang bergerak di bidang otomotif. Dan Yashinta menjadi menjadi peneliti di konservasi -konservasi serta mampu dengan sukses kuliah S2 di Belanda.

Seperti biasa, saya selalu percaya dengan tulisan Bang Tere. Sudah lama saya membaca buku ini, 2 tahun yang lalu ketika saya masih di bangku perkuliahan. Hanya baru sekarang sempet untuk membuat review nya. Dengan alur yang maju mundur, Bang Tere mampu menyeret pembaca untuk masuk ke dalam kehidupan Lahambay yang dipenuhi dengan penderitaan, suka cita, kepedihan, cinta dan pengorbanan.

Sebuah pengorbanan besar seorang kakak, yang bukan anak kandung, tapi pengorbanannya luar biasa. Sebuah pelajaran tentang ikhlas, ketika Lais bersedia menjadi tumbal untuk penguasa gunung Klendeng, Sang Siluman yang konon mencakar – cakar Babak nya dulu. Dan hewan pun mengerti arti cinta yang sedemikian besar dari Lais kepada adiknya pada saat itu (Ikanuri dan Wibisana yang kabur dari rumah ingin pergi ke kota tetapi malah tersesat di hutan), Sang Siluman itu mundur pelan dan membiarkan Lais melanjutkan perjuangannya untuk adiknya.

Cinta kepada adik – adiknya jugalah yang membuat Lais lari di tengah malam menemui mahasiswa kedokteran yang sedang KKN di Lembah mereka, di tengah hujan deras, demi kepanikannya melihat adik kecilnya Yashinta yang sedang panas tinggi. Sampai ibu jarinya pun bergeser karena menabrak batu, tetapi lais masih bilang bahwa dia tidak apa – apa.

Dukungan penuh juga diberikan Lais kepada Dalimunte, yang di usia 12 tahun mempunya ide membuat kincir air di tengah pegunungan batu cadas. Ketika semua orang tidak percaya dengan ide bodohnya, Lais lah yang pertama kali berteriak lantang di depan semua warga untuk mendukung rencana Dalimunte. Betapa dia tidak ingin mengecewakan adiknya, Dalimunte. Karena Lais tau, Dalimunte akan berhasil dengan rencana itu.

Pengorbanan Lais tidak akan saya paparkan semuanya di sini. Tidak akan istimewa nanti jika teman – teman berkesempatan membaca bukunya. Secara tidak langsung, bang Tere juga ingin menyampaikan pesan bahwa “cantik hati itu akan lebih jauh lebih baik dari cantik fisik”. Lais jauh berbeda parasnya dengan ke empat adiknya. Ke empat adiknya berkulit putih resik, tinggi. Sementara Lais kebalikannya. Hingga akhirnya perjuangan Lais pun sampai pada titik merelakan pernikahan demi pernikahan adik – adiknya meramaikan lembah Lahambay. Lais sendiri, sampai malaikat maut menjemputnya, belum juga mendapatkan rizki jodoh.

Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita. (Ar Rahman: 70).

Suara Mamak berkata lembut saat kisah itu diceritakan pertama kali terngiang di langit-langit ruangan: bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)

Sebuah novel yang mengajarkan kekeluargaan, ikhlas, jodoh dan rizki🙂