Review Buku : 9 Summers 10 Autumns

Siapa yang menyangka, seorang anak dari sebuah Gang Buntu di Batu, Malang akan menjadi seorang direktur  di New York. Ini adalah novel fiksi yang ditulis oleh penulis buku “Ibuk” yang sudah pernah saya review sebelumnya. Jujur, saya ketagihan membaca buku Bang Iwan Setyawan setelah membaca buku “ibuk”. Kalo buku “ibuk”, dia ulas dengan bahasa yang khas batu, Malang banget ; di buku 9 Summers 10 Autumn ini Bang Iwan menyisipkan banyak bahasa Inggris di dalamnya. Tapi saya yakin, kita bisa dengan mudah memahaminya🙂

Menyelam ke dalam masa lalu dan merasakannya dalam-dalam di tengah kehidupan sekarang. Buku ini menjadi bukti bahwa pendidikan bisa menjadi pengantar untuk seseorang bisa meraih mimpinya.

Berada di dalam keluarga yang dipenuhi kerja keras dan dipenuhi dengan kehangatan keluarga, pengorbanan satu sama lain, membuat kelima saudara ini mampu untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Di masa kecil, kami selalu mempunyai impian untuk menyimpannya sampai beberapa tahun dam kemudian menjualnya dengan harga bagus. Meja itu adalah furnitur terbagus di rumah ini dan menjadi tabungan kami. Meskipun marmer itu sudah retak-retak, impian ini masih menyala dan kami tetap menyimpannya. Nilai-nilai inilah yang membuat aku yakin bahwa impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak

Mba isa yang akhirnya bisa menjadi PNS di usia 35 tahun, Mba Inan yang nantinya menjadi pengajar di sebuah universitas swasta, Iwan yang mampu menjadi direktur di Nielsen New York, Rini yang bisa lolos PNS dan menjadi guru, serta si kecil Mira (denok) bekerja di Komisi Flu Burung Indonesia Jakarta. Bang Iwan seolah menuntut kita untuk ikut merenungi masa lalunya. Hari-harinya di New York diwarnai dengan perenungan yang dalam. Kehidupan masa lalunya yang berada pada himpitan ekonomi yang tak mudah, memaksanya untuk memaknai kerja keras ibu bapak dan anak-anaknya. betapa kebahagiaan mereka bukan terletak pada harta duniawi, tetapi pada cinta yang mereka miliki.

Novel ini juga serasa mengajarkan kepada kita untuk berdamailah dengan masa lalu.

Membuka kenangan lama yang terhampar di belakang memberikan makna baru dalam hidup. Memberikan apresiasi baru terhadap keberhasilan ataupun kegagalan saat ini….”

Satu lagi, saya sempat bertanya-tanya dari awal sampe dengan ending cerita ini, siapa sih tokoh anak kecil berseragam merah putih yang ada di buku ini? Saya masih belum yakin😀 Tapi setelah larut di dalamnya kita akan membayangkan bahwa kita lah yang seolah seperti anak berseragam merah putih yang mendengarkan si penulis mengisahkan masa lalunya.

Semoga bisa menjadi mir’at untuk kita semua🙂