Review Buku : Bumi Manusia

Bumi Manusia“Cerita, …, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilakannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia… jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam pisau cukur, peradabanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”

Bumi manusia, karya pertama Pramoedya Ananta Toer yang saya baca. Selama ini saya hanya jadi pendengar yang pasif saja jika ada diskusi tentang karya – karya Pram. Sempat dicekal peredarannya. Itu juga yang menambah rasa penasaran saya. Awalnya ingin meminjam buku ini dari seorang teman, tetapi dia bilang bukunya hilang. Maka, saya membeli buku ini sendiri. Tanpa diskon, wehehehe apes yah…

Bumi manusia adalah buku pertama dari tetralogi Buru yang ditulis oleh Pram. ketika mencoba meriew buku yang pertama ini, saya sudah pegang buku yang ke-2 nya, ngantri untuk dibaca🙂

Adalah Minke, seorang yang cerdas dan berani. Putra dari seorang bupati sebenarnya, tapi dia sudah terlanjur muak dengan feodalisme jawa. Pram menggambarkan Tetralogi Buru ini pada saat Jawa di masa Hindia Belanda. Minke bersekolah di HBS, di Surabaya. Hampir tidak ada seorang anak pribumi yang biasa pun yang bisa bersekolah di sana. Minke seringkali menulis di surat kabar tetapi tidak pernah menggunakan nama aslinya. Menyampaikan pemikiran-pemikirannya dengan berani. Haa tapi saya sempat berpikir, Minke, kenapa dia tidak pernah memakai nama pemberian orang tuanya?

Nyai Ontosoroh, dulunya bernama Sanikem, adalah seorang gundik pribumi yang dijual kepada Tuan Besar Belanda. Tetapi saya benar-benar salah menilai Nyai Ontosoroh ini di awal, saya benar-benar tidak habis pikir ada seorang Nyai yang seperti itu. Benar jika “harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan ikut – ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar tidaknya.” Nasibnya yang hanya menjadi Nyai, yang direndahkan oleh masyarakat, tak lantas membuatnya diam dan tidak melakukan apa-apa. Nyai belajar banyak dari Tuan Besar tentang ilmu peternakan, berbisnis, dan semuanya. Kepribadiannya yang sangat kuat digambarkan di sini. Tetapi malang sekali nasibnya, seorang yang berkepribadian kuat, diperas otaknya untuk memajukan semua bisnisnya, tetapi tidak bisa memperjuangkan anak kandungnya sendiri, Annelies.

Annelies, gadis yang sangat cantiknya luar biasa. Hatinya halus, sangat halus diceritakan dibuku ini. Tidak bisa menerima sedikit pun kekasaran. Jujur, saya baru menemukan jawaban kenapa Annelies menjadi gadis selemah itu dari penjelasan dokter pribadi yang merawat Annelies. Benar kata dokter, Annelies selemah itu karena sosok pribadi Nyai Ontosoroh yang sangat kuat, yang dilihatnya sampai umur nya sebesar itu hanyalah Nyai, dengan segala ambisi dan kekuatannya. Oiya satu lagi, diangkat pula kisah cinta Annelies di sini, memprihatinkan sekali.

Apa saya doank ya yang sedih membaca buku ini? Haa negara kita, betapa direndahkannya oleh bangsa lain. seolah tidak rela😦

Saya sarankan untuk membaca roman ini, saya masih bingung, kenapa ya buku ini sempat dilarang beredar? Tampaknya tidak ada unsur komunis yang diceritakan di sini. Menurut saya ya tinggal kitanya bagaimana dalam menilai setiap potongan yang diceritakan. Yang buruk, ya jangan diambil. Pemikiran Pram memang unik, sastra menjadi bagus dibuatnya. Oiya karena ga begitu paham sejarah saya tidak membuat review yang sejarah banget, takut salah.