Review Buku : Memory (Windry Ramadhina)

Memori Pertama kalinya baca karya Windry Ramadhina, dan saya harus geleng – geleng. Super !!! Saya langsung jatuh cinta dengan gaya menulisnya. hihihi… Tampaknya saya akan menjadi orang yang berburu buku – buku Windry (terus ini kalo suami saya baca mesti geleng2 trus bilang “bukumu udah numpuuuuk”. Piss😀 )

Memori, buku ini mengingatkanku dengan bacaan waktu SMU, “Diorama Sepasang Albana”. Bukan dari ceritanya. Tapi dari dunia arsitek yang digambarkan di novel ini. Dunia arsitek dipaparkan Windry dengan ahli nya, anyway mba ini angkatan berapa yah, kok ga pernah nemu di kampus padahal tetanggaan fakultasnya? hihihi…

Adalah Mahoni, seorang arsitek lulusan UI yang lari ke Virginia demi melupakan masa lalunya dan memulai karirnya. Bisa dibayangkan bagaimana dia “bekerja” di benua Amerika. 4 tahun dia berkarir di benua tempat arsitek idamannya, Frank O. Gehry.  Tetapi, Mahoni harus pulang ke Indonesia karena kecelakaan yang menimpa papa dan Grace (ibu tirinya). Mahoni tidak punya pilihan. Rumah papa meninggal kan seorang Sigi, adik tiri Mahoni, yang masih berumur 16 tahun. Hingga dia terpaksa harus tinggal selama 2 bulan di Indonesia. Akankah hanya 2 bulan? Let we see😀

Di rumah nya, masa lalu nya kembali muncul ke permukaan. Kenangan demi kenangan muncul di pikirannya. Kenangan yang tidak manis. Perpisahan antara papa dan Mae (ibu kandungnya). Bayang – bayang Grace ada di rumah itu dan yang terpikir adalah kebencian. Dan tentu berpengaruh pada ketidaksukaannya pula pada anak papa dan dan Grace, Sigi. Tapi bagaimanapun, mereka kakak adik, satu ayah. Ada sedikit saling sayang di antara mereka🙂

Muncullah Simon, seorang pria yang pernah ada di dekatnya semasa kuliah dulu. Pria yang pernah mencintainya dan dia cintai. Tapi, Simon sudah punya Sofia, dan mereka memiliki sebuah studio MOSS. Lengkap deh. Tetapi, MOSS membuat Mahoni tampaknya bisa menata kebenciannya pada Grace, dengan ikut mengerjakan beberapa proyek MOSS.

Simon, berbeda dengan Mahoni yang mengagumi Frank O. Gehry. Simon sangat memuja arsitek Eropa, Rem Koolhaas. Mahoni mengakui bahwa Simon adalah seorang partner diskusi yang luar biasa, tidak diragukan kemampuannya. Dengan jeans dan kaos sablonan yang menjadi khas nya.

Masa lalu membuat Mahoni berada di bawah bayang – bayang Mae. Mae yang pernah mengajaknya pergi dari rumah papa. Sebagai orang yang tersakiti. Mae yang tidak percaya lagi dengan suatu hubungan. Menganggap bahwa sama saja, pria akan bersikap manis saja di awal, tapi setelah itu dia akan berubah🙂 Membuat Mahoni membenci semua tentang papa nya dan tentu saja Grace.

Lantas bagaimana dengan Simon, Sofia dan Mahoni? Simon memilih Mahoni. Dan Sofia sudah memperkirakan itu akan terjadi🙂 Tetapi Sofia bukan lah Mae, tenggelam dalam masa lalu, membenci semua yang pernah ada di antara sepasang manusia yang mempunyai hubungan. Sofia menjadikan kisah nya dengan Simson adalah kenangan manis yang pernah ada. Hal itu menjadikan dia tetap bisa berpartner dengan Simon dalam bekerja🙂

Haa, novel ini utuh banget😀 sukaaaa. Tidak banyak kata2 romantis layaknya buku umumnya, jempol deh. Bintang 5 untuk novel ini. mari berburu buku Windry yang lain🙂