Kubah

Kubah Judul : Kubah

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Ahmad Tohari, saya baru pertama kali ini membaca karyanya. Bahkan buku nya Bekisar Merah dan Ronnggeng Dukuh Paruk nya pun saya belum baca. Ini sih memang karena ga punya🙂 Ya, Ahmad Tohari. Saya suka dengan buku anda ini. Agak jarang buat saya membaca buku yang ada unsur sejarahnya.

Kubah, menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Karman. Seorang mantan tahanan yang baru keluar dari Pulau Buru setelah 12 tahun lamanya. Penuh keraguan, akan kemana dia melangkah. Ingin kembali ke tempat asalnya, Pegaten, tetapi dia tidak memiliki keyakinan apakah masyarakat masih sudi menerima dirinya. Istrinya yang sangat dicintainya pun, kini sudah menjadi istri orang lain.

Novel tipis ini menuturkan secara flashback perjalanan Karman, inilah yang menjadikan buku ini agak special menurut saya. Perjalanan bagaimana seorang Karman, anak dan pemuda yang dulunya rajin ke masjid, pintar, akhirnya termakan oleh propaganda politik pada tahun 1950 – 1960an. Bagaimana seorang Karman akhirnya menjadi seorang yang berkiblat kepada Lenin, komunis. Ahmad Tohari menceritakannya dengan sangat baik. Dari tulisannya, saya menangkap bahwa para penganut komunis itu sendiri adakalanya tak mengerti dengan konsep komunis yang sebenarnya. Mereka hanya orang – orang pintar, tetapi akhirnya bisa dimanfaatkan dan termakan oleh propaganda ini. Begitulah yang terjadi dengan seorang Karman.

Ahmad Tohari menggambarkan dengan detail di novel tipis ini, seperti apa lokasi kejadian, bagaimana proses penangkapan para komunis ini. Saya sempat merasa seperti ada di sana menyaksikan kejadian demi kejadian.

Ah akhirnyaaa. Ahmad Tohari menutup novel ini dengan 4 ayat terakhir Surah Al Fajr yang tertulis dengan kaligrafi indah di leher Kubah yang dibuatnya…

Hai jiwa yang tentram, yang telah sampai kepada kebenaran hakiki. Kembalilah engkau kepada Tuhan. Maka masuklah engkau ke dalam barisan hamba – hamba Ku. Dan masuklah engkau ke dalam kedamaian abadi, di surga-Ku.

Kubah itu dibuat Karman untuk mengembalikan apa yang hilang dari dirinya. Sebuah kubah masjid di desa nya, yang dia buat tanpa mengharapkan upah se-sen pun. Dia berharap jika dia dapat memberikan sebuah kubah yang bagus kepada orang – orang Pegaten, dia berharap memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu!

5 bintang untuk kubah🙂