Seribu Malam Untuk Muhammad – Fahd Djibran

Seribu Malam Untuk Muhammad Judul : Seribu Malam Untuk Muhammad

Penulis : Fahd Djibran

Penerbit : Kuriniaesa Publishing

“Apakah yang lebih besar dan lebih utama dari iman?”
Aku masih mengingat kata-kata itu, Azalea. Aku masih mengingat wajahnya : Muhammad, dengan senyum yang tulus.
“Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “Melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”

Ya, dan itulah awal  kisah dari buku ini. Bermula dari tokoh “aku” yang didatangi lelaki agung dan bercahaya, Rasulullah, di dalam mimpinya. Dan “aku” adalah seorang non-muslim. Apa yang anda pikirkan? Bertemu dengan Rasulullah adalah impian umat muslim seluruh dunia, bahkan saking ingin bertemunya dengan Rasulullah, seseorang sampai berupaya melakukan ritual tertentu.

Novel ini sebenarnya adalah surat setebal 100 halaman yang diberikan oleh “aku” kepada Azalea, kekasihnya. Surat tentang mimpi dan pencariannya tentang tokoh Muhammad. Mimpi yang tak bisa dilupakan hingga detail nya. Semakin berusaha untuk dilupakan semakin baik mimpi itu muncul di ingatannya. Seseorang yang menurut “aku” tak pernah dikenal sebelumnya, tak  pernah ada di pikiran sebelumnya, tetiba datang di mimpinya. Mimpi yang akhirnya membuatnya memulai perjalanan panjang untuk mencari siapa Muhammad, meninggalkan keluarga hingga kekasihnya, Azalea.

Jujur, bergetar rasanya membaca novel ini. Tokoh “aku” menanggapi mimpinya dengan sangat serius. Mimpi, yang menurut kita adalah bunga tidur semata, tetapi tidak bagi “aku”. Pencariannya tentang Muhammad diawali dengan masa-masa ditetapkannya islam menjadi agama yang sempurna untuk umat manusia, tepatnya dimulai ketika Rasulullah melaksanakan haji wada’ bersama para sahabat. Disusul dengan sakitnya Rasulullah menjelang wafat.

“aku” juga menceritakan tentang kisah Ukasyah yang ingin menuntut qisas kepada Rasulullah karena di perang Badar atas terkenainya lambung kiri Ukasyah dengan cambuk Rasulullah. Rasul pun melepaskan ghamisnya dan tersingkaplah tubuh suci Sang Nabi. Ah, semua sahabat menangis pedih, mereka tak ada yang sanggup melihat manusia yang mulia itu disakiti. Tetapi tahukah apa yang terjadi ketika Rasul sudah melepas ghamisnya? Ukasyah menghambur memeluk tubuh Muhammad sambil berucap sendu “Tebusanmu, jiwaku wahai Rasulullah. Siapakah yang sampai hati meng-qisas manusia dengan perangai paling indah sepertimu? Sesungguhnya aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu, hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari siksa api neraka”

Dan tokoh “aku” entahlah menghabiskan berapa ratus buku untuk mencari seperti apa sosok Muhammad. Berbincang dengan berapa orang untuk mengetahui sosok Muhammad. Luar biasa. Malu, malu sekali rasanya membaca buku ini. Saya yang sudah islam sejak dilahirkan, kenal nama Muhammad sejak mulai bisa mengingat Nabi & Rasul, tetapi usaha untuk mengenal Muhammad tampaknya sangat jauh jika dibandingkan “aku” yang non muslim.

Saya tercengang dengan surat “aku” tentang mengapa banyak teman kita menghina Muhammad Sang Nabi? Ya, cobalah tanyakan kepada diri kita, sudah sejauh apa kita mengenal Muhammad. Barangkali mereka mendapatkan cerita yang keliru tentang Muhammad. Atau, paling tidak barangkali mereka keliru memahami cerita tentang Muhammad.

Ah, luar biasa buku ini. Terimakasih Fahd Djibran sudah membukukan surat ini dalam sebuah buku. Ummat patut untuk membaca buku ini. Dan kerinduan akan Muhammad menjadi sebuah keinginan kuat di qalbu. Semoga kita senantiasa bisa meneladani sikap terpuji Rasulullah tercinta. Marilah berbuat kebaikan, seperti apa kata surat ini🙂

“Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama dan sekular” [Michael H. Hart, The 100 : A Ranking Of The Most Influential Persons in History]

Aku masih mengingat saat-saat ketika punggungnya menjauh, menjauh, terus menjauh, menjelma sunyi yang bergaung dalm hatiku… Muhammad, Muhammad, Muhammad…

Buku ini memang tidak menceritakan apakah si “aku” akhirnya mengubah keimanannya. Tetapi, ada yang jauh lebih penting dari itu. Bagaimana kita bisa menjadi manusia islam yang jauh lebih baik dibanding sekarang?

Kadang-kadang agama hanya semacam identitas yang semu, selama kita tak (bisa) memaknainya dengan baik. kita harus mengakui kenyataan itu. Siapapun berhak mencintai Muhammad. Muhammad adalah kebaikan dan rahmat bagi selurus semesta.