#27 Sewindu – Tasaro G.K.

SewinduJudul : Sewindu

Penulis : Tasaro G.K.

Penerbit : Tiga Serangkai

Tasaro, nama ini memang sudah tidak saya ragukan lagi. Bukunya Kinanthi Terlahir Kembali dan Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan cukup membuat saya percaya bahwa apa yang akan dia tulis dibawakannya dengan tak biasa. Padahal mungkin hal itu sangat sederhana. Dan ini menurut saya.

Sewindu, ternyata tak hanya berisi tentang kehidupan 8 tahun pernikahan Tasaro dengan sang istri. Sewindu menceritakan lebih dari itu, kehidupan Tasaro yang lebih luas. Cerita tentang keluarganya, tentang sahabat, tentang dunia kepenulisan yang dimasukinya. Tentu hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang awalnya berpikir buku ini akan berkisah tentang diary pernikahan selama 8 tahun saja. Ah, dan saya mendapatkan lebih dari itu ^^

Tasaro, kisahmu beserta Sang Istri yang tidak tinggal seatap dalam setahun awal pernikahan (antara Bandung dan Cirebon) ini membuatku tertarik. Kenapa? Karena hal ini juga tengah saya dan suami alami. Saya di Pasuruan dan suami Banyuwangi. Dan setiap akhir pekan kami baru bertemu di Surabaya. Meskipun baru 3 bulan tapi luar biasa beratnya. Rasanya ada yang belum utuh bagi kami.

Saya suka dengan kisah demi kisah yang Tasaro dan istri alami dalam kehidupan rumah tangganya. Kisah Rp 15.000,00, Titik membuatku sedikit terkesima. Bagaimana istrimu begitu lihai membagi penghasilan yang kau berikan untuknya ke dalam pos-pos tertentu. Dan saya juga tertawa kecil ketika membaca bagaimana ekspresimu yang dengan bangga ketika melihat namamu tertera dalam tagihan listrik untuk pertama kali. Tak hanya itu, judul Saat Dia Tak Ada pun membuat saya terdiam euy.

“Ah betapa entengnya saya melewatkan waktu dan tak berpikir begitu beratnya istri menekan rasa, menjejali waktu dengan apa yang bisa ia lakukan di rumah. Saya lebih sering terjebak pada pemahaman jamak bahwa sebagai suami, sayalah yang paling lelah, sayalah yang paling membutuhkan perhatian, pijatan, pengertian, dan segalanya” hal 55

Kembali ingin saya sampaikan, buku ini inspiring sekali. Banyak yang akan anda petik kalo membacanya. Tasaro sebagai seorang anak, menantu, dan kini dia menjadi bapak untuk anaknya. Inilah yang menjadikan buku ini layak dibaca oleh siapapun, tidak hanya yang sudah menikah.

“Memahami kekurangan suami atau istri adalah sebuah fase mencengangkan. Sedangkan, menerima kekurangan itu kemudian mengusulkan kompromi logis untuk sebuah tahap yang spektakuler. Saya sangat menghargai proses ke arah itu” hal 79

Tasaro, kisahmu dengan bapak mu yang berada di Gunung Kidul membuatku sedikit haru ternyata. Perjuangan Ummi mu sempat membuatku meneteskan air mata. Begitupun tentang meninggalnya Ummi mu. Ah, semoga kami bisa selalu membahagiakan orang tua kami, membuatnya mulia di surga kelak dengan anak-anaknya yang salih dan shalihah🙂

Overall, buku ini bagus. Tapi harganya mahal yah?😀 Mungkin bisa jadi karena ilustrasi-ilustrasi berwarna yang ada di buku ini yang membuatnya mahal. Tapi kalo untuk investasi, wajarlah kita harus mengeluarkan lebih untuk banyak manfaat yang akan kita dapatkan^^ Satu lagi, kenapa buku ini susah sekali saya dapatkan di Toga mas Surabaya yah?

“Sewindu, delapan tahun, adalah waktu yang bisa jadi lama atau sebentar. Tapi, bagi saya, itu rentang waktu yang cukup untuk menimbang cinta. Mengalami banyak hal bersama Mimi, menyikapi setiap permasalahan, mencari solusi, dan menjalani paket kehidupan yang berbagai-bagai warna dan rasa, memunculkan sebuah konklusi: cinta itu tentang waktu” hal 378

Selamat menikmati buku yang renyah ini. Salam🙂