#28 5 Pesan Damai : Lebih Dekat dengan Ajaran Nabi – vbi_djenggotten

5 Pesan Damai Berbicara tentang jihad tak lantas membuat buku ini berat. Sangat ringan tapi jleb jleb, percayalah πŸ™‚

Buku komik – grafis. bagus.

Jihad adalah ketika seorang muslim mencurahkan usahanya untuk melawan keburukan dan kebatilan. Dimulai dengan jihad terhadap keburukan yang ada di dalam dirinya dalam bentuk godaan syaitan, dilanjutkan dengan melawan keburukan di sekitar masyarakat, dan berakhir dengan melawan keburukan di mana pun, sesuai dengan kemampuan. Jihad tidak selalu diwujudkan dalam perang πŸ™‚

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari buku ini. Saya jamin anda tidak akan menyesal jika membeli buku ini πŸ˜€

Advertisements

#27 Sewindu – Tasaro G.K.

SewinduJudul : Sewindu

Penulis : Tasaro G.K.

Penerbit : Tiga Serangkai

Tasaro, nama ini memang sudah tidak saya ragukan lagi. Bukunya Kinanthi Terlahir Kembali dan Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan cukup membuat saya percaya bahwa apa yang akan dia tulis dibawakannya dengan tak biasa. Padahal mungkin hal itu sangat sederhana. Dan ini menurut saya.

Sewindu, ternyata tak hanya berisi tentang kehidupan 8 tahun pernikahan Tasaro dengan sang istri. Sewindu menceritakan lebih dari itu, kehidupan Tasaro yang lebih luas. Cerita tentang keluarganya, tentang sahabat, tentang dunia kepenulisan yang dimasukinya. Tentu hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang awalnya berpikir buku ini akan berkisah tentang diary pernikahan selama 8 tahun saja. Ah, dan saya mendapatkan lebih dari itu ^^

Tasaro, kisahmu beserta Sang Istri yang tidak tinggal seatap dalam setahun awal pernikahan (antara Bandung dan Cirebon) ini membuatku tertarik. Kenapa? Karena hal ini juga tengah saya dan suami alami. Saya di Pasuruan dan suami Banyuwangi. Dan setiap akhir pekan kami baru bertemu di Surabaya. Meskipun baru 3 bulan tapi luar biasa beratnya. Rasanya ada yang belum utuh bagi kami.

Saya suka dengan kisah demi kisah yang Tasaro dan istri alami dalam kehidupan rumah tangganya. Kisah Rp 15.000,00, Titik membuatku sedikit terkesima. Bagaimana istrimu begitu lihai membagi penghasilan yang kau berikan untuknya ke dalam pos-pos tertentu. Dan saya juga tertawa kecil ketika membaca bagaimana ekspresimu yang dengan bangga ketika melihat namamu tertera dalam tagihan listrik untuk pertama kali. Tak hanya itu, judulΒ Saat Dia Tak Ada pun membuat saya terdiam euy.

“Ah betapa entengnya saya melewatkan waktu dan tak berpikir begitu beratnya istri menekan rasa, menjejali waktu dengan apa yang bisa ia lakukan di rumah. Saya lebih sering terjebak pada pemahaman jamak bahwa sebagai suami, sayalah yang paling lelah, sayalah yang paling membutuhkan perhatian, pijatan, pengertian, dan segalanya” hal 55

Kembali ingin saya sampaikan, buku ini inspiring sekali. Banyak yang akan anda petik kalo membacanya. Tasaro sebagai seorang anak, menantu, dan kini dia menjadi bapak untuk anaknya. Inilah yang menjadikan buku ini layak dibaca oleh siapapun, tidak hanya yang sudah menikah.

“Memahami kekurangan suami atau istri adalah sebuah fase mencengangkan. Sedangkan, menerima kekurangan itu kemudian mengusulkan kompromi logis untuk sebuah tahap yang spektakuler. Saya sangat menghargai proses ke arah itu” hal 79

Tasaro, kisahmu dengan bapak mu yang berada di Gunung Kidul membuatku sedikit haru ternyata. Perjuangan Ummi mu sempat membuatku meneteskan air mata. Begitupun tentang meninggalnya Ummi mu. Ah, semoga kami bisa selalu membahagiakan orang tua kami, membuatnya mulia di surga kelak dengan anak-anaknya yang salih dan shalihah πŸ™‚

Overall, buku ini bagus. Tapi harganya mahal yah? πŸ˜€ Mungkin bisa jadi karena ilustrasi-ilustrasi berwarna yang ada di buku ini yang membuatnya mahal. Tapi kalo untuk investasi, wajarlah kita harus mengeluarkan lebih untuk banyak manfaat yang akan kita dapatkan^^ Satu lagi, kenapa buku ini susah sekali saya dapatkan di Toga mas Surabaya yah?

“Sewindu, delapan tahun, adalah waktu yang bisa jadi lama atau sebentar. Tapi, bagi saya, itu rentang waktu yang cukup untuk menimbang cinta. Mengalami banyak hal bersama Mimi, menyikapi setiap permasalahan, mencari solusi, dan menjalani paket kehidupan yang berbagai-bagai warna dan rasa, memunculkan sebuah konklusi: cinta itu tentang waktu” hal 378

Selamat menikmati buku yang renyah ini. Salam πŸ™‚

#26 Pintu Harmonika – Clara Ng & Icha Rahmanti

Pintu HarmonikaYep, buku pertama Clara Ng yang saya baca πŸ˜€ Apa yah? Saya mau bilang bahwa novel ini punya cover yang manis sekali, sangat. Itu yang awalnya bikin saya memutuskan membelinya. Ah, pokoknya baguuus deh covernya. Di samping itu, rating goodreads kok tampaknya juga baguuus. Oke, deal. Saya memasukkan ke dalam keranjang belanja saya πŸ™‚

Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Ya, itu juga potongan kalimat dalam buku ini yang membuat saya optimis harus mempunyai buku ini. tapi, udah ah ntar kepanjangan kisahnya kenapa beli buku ini. Mba Clara & Mba Icha, saya tak menyesal membeli buku ini, sungguh πŸ™‚

Adalah Rizal, Juni, David. Buku ini berisi 3 jurnal dan catatan harian yang mereka tulis. Ketiganya dipertemukan di kompleks Ruko Gardenia Crescent. Dan buku ini menceritakan kecintaan mereka dengan sebuah tempat yang mereka sebut “Surga”. Kamu tahu Surga itu apa? tanah kosong yang ada di komplek mereka, yang ditumbuhi rumput liar, logikanya ga banget kan tempat seperti itu di sebut Surga? Ah tapi ternyata itu tidak benar.

…Setiap berada di situ, gue merasa bebas dan damai. Bukan cuman gue, tapi demikianlah arti tanah kosong buat teman-teman yang kemudian menjadi seperti adik-adik gue sendiri, Juni dan David. Di sana, walaupun nggak selalu main bareng, kami membentuk ikatan yang sulit diceritakan. Kami seolah mengerti satu sama lain dan saling menyayangi…

Dan suatu hari, kecintaan mereka terhadap Surga terusik akibat sebuah papan yang terpasang di sana serta bertuliskan “Dijual”. Ya, dan mulailah aksi mereka untuk menyelamatkan Surga nya. Mulai dari menjatuhkan plang yang ada, mengganti dengan tempelan penawaran badut, dll…

Mba Clara & Mba Icha, kembali saya sampaikan. Saya merasa terhibur dengan cerita mereka di buku ini. tapi kok rasanya “tanggung” yah, entahlah. Itu yang saya rasa. dan rasanya keakraban mereka ber3 kurang dibahas di buku ini πŸ™‚

Meskipun berasa tanggung, tapi saya berhasil menamatkan novel ini. Dan saya mulai enjoy dengan jurnal ke-tiga dari sudut pandang David? Kenapa gitu? Yang belum baca, silahkan baca bukunya yah πŸ™‚

Novel yang mengandung tema keluarga ini sempet membuat saya sempat berkaca-kaca di bagian akhirnya. Ah benar-benar tidak menyangka…

Bintang 3 untuk kisah di buku ini. Aksi penyelamatan Surga dan kecintaan mereka kepada keluarga πŸ™‚

Perjalanan ke Atap Dunia – Daniel Mahendra

Perjalanan Ke Atap DuniaJudul : Perjalanan ke Atap Dunia

Penulis : Daniel Mahendra

Penerbit : Medium

Dari dulu, saya sangat menyukai buku-buku traveling. Dalam bentuk apapun. Padahal saya hampir jarang banget treveling euy #curhat. Entahlah, rasanya ikut menikmati perjalanan demi perjalanan yang dirasakan orang lain. Apalagi kalau pemaparannya baguuus, membawa kita ke dalamnya, seperti buku ini πŸ™‚

Ya, saya mengenal buku ini dari senior kantor. Katanya buku ini bagus. Jadilah penasaran saya baca. Dari awal membaca buku ini, saya langsung sukaaak #pake “k” pula ya sukanya πŸ˜€ Bang Daniel membuat buku ini untuk orang-orang yang berani memperjuangkan mimpi masa kecilnya loh. Langsung deh ngaca, apakah kita sudah berjuang untuk mewujudkan mimpi? Atau membiarkannya saja bersemayam di angan-angan, menunggu Tuhan menjawab dan pasrah? πŸ™‚

Adalah Bang Daniel (saya sebut “Bang” saja deh), dari kecil sudah berkeinginan pergi ke negeri atap dunia, Tibet. Berkali-kali membaca komik Tintin di Tibet, berkali-kali menonton film Seven Years in Tibet, dan terus saja bertanya-tanya: apakah mungkin dia bisa pergi ke Tibet?

Beberapa kali pernah kutulis di dalam blog pribadiku tentang keinginanku pergi ke Tibet. Tetapi kapan? Aku tak pernah bisa menjawabnya. Kuinsafi: keinginan mengunjungi Tibet ternyata hanya angan. Bukan sesuatu yang konkret. Adalah betul aku pernah menuliskannya. Artinya, tidak semata angan yang mencelat melalui lisan. Tetapi sudah kutuliskan. Namun tetap saja: meski sudah pernah ditulis, semua itu tanpa pengejawantahan.”

Bang Daniel mengajarkan banyak hal di sini. Meraih mimpi itu terkadang harus menghadapi tantangan demi tantangan, tidak melulu berjalan mulus bak jalan tol. Begitupun dengan Bang Daniel dalam mempersiapkan perjalanannya ke Cina ini. Ah, saya seperti turut serta dalam perjalanan ini. Memelototin harga pesawat tiap waktu untuk mendapatkan harga yang murah, tidur di bandara, berhari-hari di kereta menuju Lhasa. Semua saya rasakan pokoknya πŸ˜€

Tapi tapi tapi, bukan yang indah indah aja loh baca buku ini. Saya sempat kecewa, tau kenapa? Ah, ekspektasiku terhadap Tibet tinggi sekali sebelumnya. Sama seperti tweet saya ke Bang Daniel “saya tidak pernah menyangka bahwa Tibet akan seperti apa yang anda gambarkan di buku ini.” Dan jawaban Bang Daniel “Apa boleh buat: tak selamanya impian berbanding lurus dgn kenyataan. Tetapi untuk mengetahui hal itu, kita harus membuktikan.” seperti apa itu? tentu anda semua harus membaca buku ini!!!

Ketika keinginan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. – hal 114

Hal yang paling saya suka adalah melihat gugusan Himalaya yang dipenuhi salju. Ah, tampaknya awesome sekaliiii #ngebayangin terus mupeeeng πŸ™‚

Oiya, ada satu lagi yang ku suka. Bertemu dengan orang-orang baru tampaknya menyenangkan sekali πŸ™‚ Seperti bertemu saudara sendiri. Seperti hal nya ketika Bang Daniel bertemu dengan Juan, si pemuda dari Amerika Latin. Juan yang seorang perokok berat bisa benar-benar stop menjadi perokok, padahal mungkin semua orang tau bahwa dalam praktiknya berhenti merokok itu tidak semudah yang dibayangkan #konon. Dan Bang Daniel pun menanyakan itu karena dia juga seorang perokok. Kata Juan “Aku tahu. Memang nggak mudah. Berat. Sangat berat. Tapi ketika kita konsekuen dengan keputusan kita, segalanya bisa kalo kita mau. Yang kita butuhkan hanya keberanian kok.” Ah, andai banyak orang yang bisa berpikir seperti ini, mungkin saya tak akan pernah sesak napas di bis yang penuh asap rokok #curhat πŸ˜€

Itu hanya salah satu dari sekian banyak hal menarik di buku ini. Well, silahkan baca sendiri buku ini. Cina, Tibet, Nepal dan saatnya kini kita pulang ke Tanah air tercinta πŸ™‚

“Masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah kemanapun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu. Tetapi pada saatnya tiba jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah… Kelak istri dan anak-anakmu di rumah adalah harta sebesar-besarnya yang kamu miliki”

Seribu Malam Untuk Muhammad – Fahd Djibran

Seribu Malam Untuk Muhammad Judul : Seribu Malam Untuk Muhammad

Penulis : Fahd Djibran

Penerbit : Kuriniaesa Publishing

“Apakah yang lebih besar dan lebih utama dari iman?”
Aku masih mengingat kata-kata itu, Azalea. Aku masih mengingat wajahnya : Muhammad, dengan senyum yang tulus.
“Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “Melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”

Ya, dan itulah awalΒ  kisah dari buku ini. Bermula dari tokoh “aku” yang didatangi lelaki agung dan bercahaya, Rasulullah, di dalam mimpinya. Dan “aku” adalah seorang non-muslim. Apa yang anda pikirkan? Bertemu dengan Rasulullah adalah impian umat muslim seluruh dunia, bahkan saking ingin bertemunya dengan Rasulullah, seseorang sampai berupaya melakukan ritual tertentu.

Novel ini sebenarnya adalah surat setebal 100 halaman yang diberikan oleh “aku” kepada Azalea, kekasihnya. Surat tentang mimpi dan pencariannya tentang tokoh Muhammad. Mimpi yang tak bisa dilupakan hingga detail nya. Semakin berusaha untuk dilupakan semakin baik mimpi itu muncul di ingatannya. Seseorang yang menurut “aku” tak pernah dikenal sebelumnya, takΒ  pernah ada di pikiran sebelumnya, tetiba datang di mimpinya. Mimpi yang akhirnya membuatnya memulai perjalanan panjang untuk mencari siapa Muhammad, meninggalkan keluarga hingga kekasihnya, Azalea.

Jujur, bergetar rasanya membaca novel ini. Tokoh “aku” menanggapi mimpinya dengan sangat serius. Mimpi, yang menurut kita adalah bunga tidur semata, tetapi tidak bagi “aku”. Pencariannya tentang Muhammad diawali dengan masa-masa ditetapkannya islam menjadi agama yang sempurna untuk umat manusia, tepatnya dimulai ketika Rasulullah melaksanakan haji wada’ bersama para sahabat. Disusul dengan sakitnya Rasulullah menjelang wafat.

“aku” juga menceritakan tentang kisah Ukasyah yang ingin menuntut qisas kepada Rasulullah karena di perang Badar atas terkenainya lambung kiri Ukasyah dengan cambuk Rasulullah. Rasul pun melepaskan ghamisnya dan tersingkaplah tubuh suci Sang Nabi. Ah, semua sahabat menangis pedih, mereka tak ada yang sanggup melihat manusia yang mulia itu disakiti. Tetapi tahukah apa yang terjadi ketika Rasul sudah melepas ghamisnya? Ukasyah menghambur memeluk tubuh Muhammad sambil berucap sendu “Tebusanmu, jiwaku wahai Rasulullah. Siapakah yang sampai hati meng-qisas manusia dengan perangai paling indah sepertimu? Sesungguhnya aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu, hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari siksa api neraka”

Dan tokoh “aku” entahlah menghabiskan berapa ratus buku untuk mencari seperti apa sosok Muhammad. Berbincang dengan berapa orang untuk mengetahui sosok Muhammad. Luar biasa. Malu, malu sekali rasanya membaca buku ini. Saya yang sudah islam sejak dilahirkan, kenal nama Muhammad sejak mulai bisa mengingat Nabi & Rasul, tetapi usaha untuk mengenal Muhammad tampaknya sangat jauh jika dibandingkan “aku” yang non muslim.

Saya tercengang dengan surat “aku” tentang mengapa banyak teman kita menghina Muhammad Sang Nabi? Ya, cobalah tanyakan kepada diri kita, sudah sejauh apa kita mengenal Muhammad. Barangkali mereka mendapatkan cerita yang keliru tentang Muhammad. Atau, paling tidak barangkali mereka keliru memahami cerita tentang Muhammad.

Ah, luar biasa buku ini. Terimakasih Fahd Djibran sudah membukukan surat ini dalam sebuah buku. Ummat patut untuk membaca buku ini. Dan kerinduan akan Muhammad menjadi sebuah keinginan kuat di qalbu. Semoga kita senantiasa bisa meneladani sikap terpuji Rasulullah tercinta. Marilah berbuat kebaikan, seperti apa kata surat ini πŸ™‚

“Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama dan sekular” [Michael H. Hart, The 100 : A Ranking Of The Most Influential Persons in History]

Aku masih mengingat saat-saat ketika punggungnya menjauh, menjauh, terus menjauh, menjelma sunyi yang bergaung dalm hatiku… Muhammad, Muhammad, Muhammad…

Buku ini memang tidak menceritakan apakah si “aku” akhirnya mengubah keimanannya. Tetapi, ada yang jauh lebih penting dari itu. Bagaimana kita bisa menjadi manusia islam yang jauh lebih baik dibanding sekarang?

Kadang-kadang agama hanya semacam identitas yang semu, selama kita tak (bisa) memaknainya dengan baik. kita harus mengakui kenyataan itu. Siapapun berhak mencintai Muhammad. Muhammad adalah kebaikan dan rahmat bagi selurus semesta.

Kubah

Kubah Judul : Kubah

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Ahmad Tohari, saya baru pertama kali ini membaca karyanya. Bahkan buku nya Bekisar Merah dan Ronnggeng Dukuh Paruk nya pun saya belum baca. Ini sih memang karena ga punya πŸ™‚ Ya, Ahmad Tohari. Saya suka dengan buku anda ini. Agak jarang buat saya membaca buku yang ada unsur sejarahnya.

Kubah, menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Karman. Seorang mantan tahanan yang baru keluar dari Pulau Buru setelah 12 tahun lamanya. Penuh keraguan, akan kemana dia melangkah. Ingin kembali ke tempat asalnya, Pegaten, tetapi dia tidak memiliki keyakinan apakah masyarakat masih sudi menerima dirinya. Istrinya yang sangat dicintainya pun, kini sudah menjadi istri orang lain.

Novel tipis ini menuturkan secara flashback perjalanan Karman, inilah yang menjadikan buku ini agak special menurut saya. Perjalanan bagaimana seorang Karman, anak dan pemuda yang dulunya rajin ke masjid, pintar, akhirnya termakan oleh propaganda politik pada tahun 1950 – 1960an. Bagaimana seorang Karman akhirnya menjadi seorang yang berkiblat kepada Lenin, komunis. Ahmad Tohari menceritakannya dengan sangat baik. Dari tulisannya, saya menangkap bahwa para penganut komunis itu sendiri adakalanya tak mengerti dengan konsep komunis yang sebenarnya. Mereka hanya orang – orang pintar, tetapi akhirnya bisa dimanfaatkan dan termakan oleh propaganda ini. Begitulah yang terjadi dengan seorang Karman.

Ahmad Tohari menggambarkan dengan detail di novel tipis ini, seperti apa lokasi kejadian, bagaimana proses penangkapan para komunis ini. Saya sempat merasa seperti ada di sana menyaksikan kejadian demi kejadian.

Ah akhirnyaaa. Ahmad Tohari menutup novel ini dengan 4 ayat terakhir Surah Al Fajr yang tertulis dengan kaligrafi indah di leher Kubah yang dibuatnya…

Hai jiwa yang tentram, yang telah sampai kepada kebenaran hakiki. Kembalilah engkau kepada Tuhan. Maka masuklah engkau ke dalam barisan hamba – hamba Ku. Dan masuklah engkau ke dalam kedamaian abadi, di surga-Ku.

Kubah itu dibuat Karman untuk mengembalikan apa yang hilang dari dirinya. Sebuah kubah masjid di desa nya, yang dia buat tanpa mengharapkan upah se-sen pun. Dia berharap jika dia dapat memberikan sebuah kubah yang bagus kepada orang – orang Pegaten, dia berharap memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu!

5 bintang untuk kubah πŸ™‚

Surat Dahlan

Surat DahlanJudul : Surat Dahlan

Penulis : Khrisna Pabichara

Penerbit : Noura Books

Pak Dahlan,,, membaca prolog di buku ini entah kenapa ada yang terasa bergetar di diri saya. Membayangkan anda usai menjalani operasi transplantasi hati. Sakit. Dimana mengeluh pun anda tak mau. Karena dengan terus menerus mnegeluh, itu akan menambah rasa sakit. Nice πŸ™‚

Ya, ini buku ke-2 dari novelisasi kehidupan Dahlan, setelah buku pertamanya Sepatu Dahlan.

Jika anda sudah membaca ke-dua buku novelisasi kehidupan pak DaIs ini, anda akan tahu dimana perbedaannya. Kalo Sepatu Dahlan menceritakan kehidupan DaIs ketika masih kecil di Kebon Dalem, bagaimana dia kehilangan ibu yang sangat dicintainya, danΒ  kehidupannya hingga bangku SMA. Maka, di buku Surat Dahlan ini, anda tak akan menemukan itu. Buku ini menceritakan kehidupan Dahlan di bangku kuliah di Samarinda hingga nantinya dia bisa duduk di Jawa Pos. Dahlan yang sedang mencari cinta dan jati diri *itu yang saya tangkap πŸ˜€

Anda tahu kenapa judul novel ini Surat Dahlan? karena di buku ini banyak sekali surat – surat yang diterima Dahlan dari Aisha, kekasih hatinya sejak di Kebon Dalem. Saya sempet bingung bacanya, hehehe dan tidak menikmatinya *subyektif loh ya…

Pak Dahlan, yang saya tangkap di sini, tampaknya hatinya sedang berontak. Di bangku kuliah, Dahlan seperti orang yang tak kerasan,Β  berpikir bagaimana nasib cinta dan masa depannya.Β  Ruang hatinya masih dipenuhi nama Aisha, tetapi di sisi lain dia juga tak yakin dengan masa depannya bersama Aisha. Dahlan lebih suka berada di organisasi PII (Persatuan Islam Indonesia) daripada harus duduk manis di kelas perkuliahan. Di sini lah sebenarnya bagian yang seru, bagaimana Dahlan dan teman – temannya demo dan dikejar – kejar aparat, hingga ada 2 orang temannya yang tertangkap polisi. Tetapi ku rasa ada bagian yang hilang setelah bagian ini. Khrisna tak menceritakan seperti apa dampak psikologis yang diterima Dahlan dan teman – temannya akibat kejaran dan penangkapan aparat.

Sampe pada Dahlan akhirnya memutuskan untuk menikahi seorang wanita yang nantinya akan membawa kesuksesan dirinya. Dan itu bukan Aisha. Tetapi Nafsiah, teman ketika di PII πŸ™‚

Novel ini juga menceritakan bagaimana akhirnya Dahlan berkiprah di Tempo, hingga kemudian Jawa Pos. Dengan semua perjuangannya.

Khrisna ingin menggugah hati kita dengan kehidupan masa muda Dahlan. bagaimana perjuangannya untuk menjadi sukses. Tetapi, i think Sepatu Dahlan lebih inspiratif, lebih ngena di hati πŸ™‚ Ah terlepas dari itu, Dahlan tetaplah sosok yang luar biasa yang saya lihat !!! Bintang 3 untuk Surat Dahlan.

Menunggu buku yang ke-3 dari novelisasi kehidupan Dahlan…