Reminder untuk para calon ibu :)

Dapet dari milist tetangga 🙂

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama ummat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam mencari pahlawan Indonesia: “ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (hiduplah mulia, atau mati syahid!),”kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata2 Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang Badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.tak lama kemudian ia diterima rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghapal Al Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris Wahyu. Karena itu, namanya akrab di telinga kita hingga kini : Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk sholat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadist dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendo’akan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendo’akan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdo’adi depan anaknya : “Ya Allah Tuhan yang meguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu, Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan rasulMu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”. Do’a-do’a itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya : Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi bu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita – cita. Seperti Ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi Imam masjidil haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ubu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak nakanya kecil telah menuliskan ‘kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti ketrampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doctor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

Surabaya – Banyuwangi itu jauh, Jendral!

Ah, kau tau kawan? Dulu, aku tak pernah bermasalah dan tak pernah risau dengan kota di ujung timur pulau Jawa ini. Bahkan, terpikir aja tidak sebelumnya. Aku tak pernah tahu bahwa kota itu amat jauh, sekali lagi bagiku. Dan yang pasti teruntuk suamiku juga. Yang ku tahu, dia ada di provinsi Jawa Timur juga. Tetapi, Surabaya – Banyuwangi itu jauh, Jendral!!!

Hingga pada suatu saat, nama kota itu sampai ke telingaku.  Berawal dari “penempatan” di perusahaan suami, memilih penempatan Bojonegoro atau Banyuwangi? Haa, waktu itu ketika dia meminta sedikit pertimbangan kepadaku, aku hanya berpikir bahwa kerjaku di Pasuruan, Banyuwangi kan searah dengan kota tempat kerjaku. Pasuruan terus saja ke Timur. Sedangkan kalo di Bojonegoro, aku mikirnya, dia di Barat sedang aku di Timur. Sekilas tampak lebih praktis memilih Banyuwangi. Tetapi itu pemikiranku dulu, tidak sekarang. Mencoba khusnudzan, akan ada banyak pelajaran di sini 🙂

Kau tau kawan? Bis ke arah Timur itu memang banyak. Tetapi hanya sampai di kota Jember. Ya, banyak sekali bus patas yang hanya sampai ke Jember. Untuk yang ke Banyuwangi, memang ada, tetapi jarang dan amat tidak fleksible pemirsa. Begitupun dengan angkutan kereta api nya.

Hari Jum’at adalah hari yang saat ini paling ku nanti, karena itu adalah hari dimana dia pulang dari Banyuwangi. Dan sebaliknya, kalo sudah masuk hari Minggu, rasanya beraaat di hati. Itu artinya kami harus berpisah lagi.  Ah, sekali lagi itu menyedihkan, kawan. Mungkin ini juga yang kalian rasakan ketika kalian harus berjauhan dengan suami or istri. Tetapi, sekali lagi ku katakan. Ini juga bagian dari pilihan. Ketika istri memilih untuk bekerja juga, berbeda lagi jika istri  tidak terikat dengan aturan baku dari suatu kantor.

Semoga Allah siapkan kemudahan setelah ini. Mungkin kita harus belajar bersyukur suami sayang, mungkin ada lagi yang jauh tak seberuntung kita bisa bertemu setiap akhir pekan. Ku titipkan kamu pada-Nya. Raih ridho-Nya. Kita masih berada di bawah langit yang sama 🙂

*Catatan yang ku bikin karena melihatmu harus ke terminal sebelum Shubuh untuk mencari bis ke kota tujuan, tetapi bis yang dicari pun tak ada.

Bismillah, Kami Menikah

Bukan sebuah kisah yang menakjubkan. Tapi ini adalah bagian dari perjalanan, sebuah bagian yang mengubah banyak hal. Hal yang baik tentunya 🙂

14 Desember 2010

Di sana kami bertemu, Prodia Jakarta. Bukan, bukan karena kami sama2 pasien yang tengah sakit. Tapi kami sama2 tengah menjalani salah satu step dalam memasuki sebuah perusahaan listrik. Biasa kan ngobrol bareng2 bergerombol berbagi pengalaman, di dalem diapain aja sama dokter, sembari nunggu giliran kami masing – masing. Sungguh, kami tidak langsung kenalan. Dia bersama gerombolannya, dan saya juga bersama gerombolan saya. Tetapi tak tau, tiba2 dia muncul, mungkin tertarik dengan pembicaraan kami yang memake bahasa jowo 😀 ngobrol ngobrol ngobrol, dia kenalan sama masing2, dan tiba lah giliran ku. hihihi…

Saya : Emang darimana asalnya?

Dia : Surabaya, kamu?

Saya : Walah tetangga, tapi saya Lamongan..

Dia : Oooh , kuliah dimana dulu? Unair? (ini nih yang masih teringat sampe sekarang :p)

Saya : Engga, UI…

hanya sebatas itu obrolan kami. Oiya, ada satu lagi. Dia bertanya pada saat itu aku sedang kerja dimana.

Aku nomor urut 25, dan dia 30an (akhir2). Jadi wajar kalo saya meninggalkan Prodia duluan. Tanpa babibu, tanpa merasa kami harus bertukar nomor telepon. huehehe…

16 Desember 2010

Kami berteman di fb. Saya, dia, dan beberapa teman lain segerombolan saat di prodia. Just that 🙂

19 Januari 2011

Adalah jadwal dimana para peserta yang lolos medical check-up harus melanjutkan tahap test yang namanya interview user. Pada hari itu, saya baru tau jika dia juga sebenarnya lolos untuk mengikuti tahap wawancara, tetapi dia tak datang. kabarnya dia sudah diterima di perusahaan lain. hihihi…

Ya, dan kami hanya sekali bertemu di Prodia. Setelahnya ya bye bye. hehehe… Ditambah Jakarta dan Surabaya, sangatlah kecil kemungkinan kita akan ketemu papasan di jalan, dsb. Tidak pernah terlintas kami akan janjian untuk ketemu kapan dan dimana. Hingga sampai pada…

19 April 2011

Saya akhirnya harus meninggalkan Jakarta. Bukan, bukan untuk menemui dia. Wong kami ga ada apa2 sama sekali. Kabar2 juga enggak, hanya mungkin sesekali kami comment di status fb, sesekali dan itu pun tidak ada indikasi ke arah muda mudi yang saling suka (protes2 ini suami saya kalo baca, hakhak :P). Tapi karena saya harus menuju tempat dimana perusahaan menempatkan saya dalam bekerja 🙂

25 September 2011

Wiken itu saya memang ke Surabaya, silaturrahim ke salah seorang sahabat dekat waktu SMA. Berangkat dari Pasuruan Sabtu dini hari. dan dijemput sahabat di terminal dengan motornya. Hingga kemudian, hari Ahad sore saya harus kembali ke Pasuruan.

Sungguh, tidak ada sedikitpun agenda saya untuk ketemu dengan si dia (yang sekarang adalah suami). Karena, murni dari awal niat saya hanya akan meripresh sejenak otak bersama sahabat. Tapi percayakah? Saya bertemu dengan dia di ruang tunggu terminal tersebut pada saat akan kembali ke Pasuruan hari Ahad malam. Just that. Bertemu, sharing, wajar kan pernah kenal terus tetiba bertemu lagi. Kami ngobrol, banyak hal, tetapi tidak ada tendensi ke arah suka suka an. Ternyata saya memang orang yang ga peduli banget yah, hihihi kebiasaan kalo sama cowok ya memang super duper cuek 😀 Saya baru tau bahwa saat itu, dia tengah menempuh pendidikan profesi dan magister akuntansi di sebuah kampus negeri di Malang. Ah, memang hanya itu. Hanya sebuah silaturrahim biasa. Saya pulang ke Pasuruan, karena tak mau juga sampe kostan kemalaman. Saya hanya berpikir, alhamd dipertemukan lagi dengan salah seorang saudara di sini. Semoga apapun yang sedang dia hadapi semuanya lancar 🙂 Itu do’a saya pada saat itu.

Februari 2012

Di bulan ini  kami memang sesekali berkirim kabar. Mungkin background pendidikan kami yang sama. jadi terkadang apa yang sedang dia bahas, mengingatkanku kembali pada cita2 ku untuk kembali ke kampus.

Juni 2012

Akhirnya halaman rumahku pun menjadi saksi akan datangnya calon penghuni baru di rumah kecil itu. Kuperkenalkan ke ibu bapak, siapa orang yang akhirnya aku pilih, calon menantu mereka. Bukan, berharapnya dia bukan orang yang akan membawaku pergi dari ibuku. Tapi justru dia akan menjadi anak ibuku juga yang senantiasa sayang seperti layaknya kepada ibunya sendiri. Semoga dia yang terbaik 🙂

27 Oktober 2012

Dia datang bersama keluarganya, dan mulai hari itu, resmi, tidak ada yang boleh melamarku tanpa mendapatkan kerelaan dia 🙂

16 Maret 2013

Bismillah, kami menikah 🙂 Bahkan sampe kini pun kami masih geleng2, kamu siapa saya siapa. Dulu kami bukan siapa2. Dan satu dua pun di antara 2 keluarga ini saling kenal, oh ternyata kenal ini juga, itu juga, dll… Ya, dan banyak orang bilang “kalo memang sudah jodoh itu ga ada yang tahu ya jalannya seperti apa”. saya yang anti cowok sebelumnya, takluk juga akhirnya dengan dia. hihihi

Baru saja pelayaran ini dimulai, menuju mardhotillah. Bersamanya, my wonderful man 😉

Untuk teman2, tak usah takut menikah. Allah akan mencukupkan rizki kita, tak perlu khawatir. hehehe…

Desember Kelabu

Duh, kalo orang bilang Desember ceria, sebaliknya, saya kelabu banget. Lha gimana ga kelabu, ini sudah tanggal 13, dan saya baru membaca tamat 1 buku saja ; dihitung sejak 1 Desember 2012. Plus membaca majalah rutin, tarbawi.

Tumben sekali iniiiii, tidak biasanya. mungkin karena kemarin volume kerjaan kantor menjelang closing lumayan banyak, terus kalo sudah sampe kostan bawaannya capek terus pengen cepet-cepet tidur. Yang biasanya di bis jemputan dipake baca plus terkadang bbm an, eh seminggu kemarin terlelap di bis jemputan pulang kantor. Sempet siih liat buku di rak, tapi tapi tapi kok ya udah ngantuk. Otaknya sudah tak bisa diajak mikir tepatnya. menyedihkan sekali 😦

Life Traveler, saya pegang sudah seminggu, tapi belum tamat juga. iri deh, jika melihat orang-orang yang bisa membaca buku meskipun dia harus ngurus anak, dll. Masa saya yang cuma kantor – kostan tiap hari kalah 😀 Ayo ayo ayo berbenah, kasihan sekali kalo bukunya cuma ditaruh rak doank, melambai-lambai tapi ga disentuh juga… Mencoba menghibur diri, padahal sebentar lagi akhir tahun dan itu artinya semakin menggila di depan pc. huehehehe -_-

 

buku mana buku mau dibaca

Aku dan Mimpiku #Part 1

Random ya, mulai menulis bagian dari perjalananku 🙂 ini duniaku dan ini mimpiku, hehe… dari kecil, buku adalah duniaku. Teringat dengan jelas guru SD ku bilang “cintailah buku, niscaya kalian akan bisa menguak sepetak langit”. Ah, aku memang sangat mencintai buku, tapi ini tidak membuatku lantas untuk tidak mencintai manusia lho ya. Mencintai manusia juga perlu, dan tentunya dia (manusia) itu tak tergantikan 😀

Selalu buku dan buku. Hingga mungkin terkadang orang yang melihatku pun bingung, aku akan berpikir dua kali untuk membeli baju, sepatu, dll. Tetapi kalo untuk buku, rasanya jarang ada pertimbangan lagi. Hanya, tetaplah ada batasan berapa maksimal yang boleh kusisihkan untuk “merampok” buku 🙂

Sejak SMA, dengan ukuran kantong anak SMA, apalagi anak rantau tentu harus mikir – mikir jatah uang dari ibu bapak ini cukup ga ya untuk hidup sebulan, wehehheeh… aku masih tetap mencuri sedikit2 jatah itu untuk membeli buku, mulai dari buku sekolah (penunjang yang macem-macem) hingga majalah Annida bekas (pada jaman itu Annida masih waw banget lho berbentuk hardcopy) dan di tahun terakhir SMA lah akhirnya aku mengenal komik (tapi sampe detik ini, tidak ada komik yang pernah saya beli, semuanya murni rental, dulu, sekarang udah ga begitu suka komik) 😀

Kuliah, kebiasaan membaca jadi agak lebih gila. Ditambah masih banyak teman – teman yang bisa diajak untuk sharing buku alias pinjem-pinjeman buku gitu (maklum mahasiswa, banyak kebutuhannya, hehehe…). Aku bisa menghabiskan waktu berjam – jam di toko buku sambil nanti pulang membawa minimal satu buku, hehehe…

Alhamdulillah, sekarang bisa lebih memperkaya buku yang dipunyai. Seperti biasa, ibuku seringkali bertanya “ini mau ditaruh mana lagi An? udah ga ada lagi tempatnya”. Dan hanya ku jawab dengan singkat “ga tau deh Buk, hehehe… asal jangan dijual aja deh”. maklum, mungkin ibuku bingung, bukuku makin bertambah aja makin lama. Dan semua buku yang udah ku baca pasti ku lempar ke rumah, biar ga menuhin kostan, makanya ibu pusing dan geleng – geleng gitu ya 😀

Dengan buku, aku merasa duniaku lebih besar dan lebih luas. Dan hingga kini hal yang paling ku suka adalah mencium bau dari buku baru 😀 Kalo kata quote Cholil “karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya, karena setiap aksara membuka jendela dunia…”

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap – sayap baru. Membawaku terbang ke taman – taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ku jumpai, sambil bermain di lengkung pelangi” (Abdurrahman Faiz)

Aku ingin punya seribu buku. Punya semacam “library” nanti di rumah *tapi ini kalo punya rumah sendiri sih nanti, namanya juga mimpi 😀 Berharap nantinya suamiku pun mendukungku untuk tetap mencintai buku. Tidak memisahkanku dari buku *kok jadi lari ke suami yak, gapapalah ya, namanya juga harapan 🙂 berharap buku – buku ku nanti bisa dibaca banyak orang, bermanfaat untuk yang lain…

Semangaaaat punyaaaa perpuuuuuuuus “Ya Allah, semoga jika ga bisa bikin sendiri, nanti dibikinin suami deh. Amiiin Amiin Amiin…” 😀

#sampai jumpa di mimpi – mimpi berikutnya…

Cerita Qurban

Berbagi cerita sedikit saja, dari tweet temen, yang menurut saya patut kita renungkan bersama. Semoga bisa jadi pengingat untuk yang membaca 🙂

Pas dengan moment menjelang Idul Adha, yaitu qurban. Mungkin bukan bagaimana sejarah qurban yang akan saya tulis di sini. Tapi lebih ke arah, apa hati kita sudah tergerak untuk ber qurban? Mengingat kita pasti sudah tau makna apa sih yang ada di dalam anjuran untuk berqurban di tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah.

Anaknya kawan saya, namanya Fia, masih kelas 6 SD. Kemarin, dia datang ke umminya dengan muka yang muram.

Fia : Mi, Fia baru buka celengan Fia. Cuma dapet 1,1 juta. Ummi tambahin 300ribu ya mi. Fia pinjem deh mi. Boleh ya mi? *pintanya dengan muka yang melas

Ummi : Lho buat apa, Nak? *dengan wajah yang bingung

Fia : Fia mau qurban mi. Fia mau ikut dapet pahala mi dengan berqurban. boleh ya mi ya, please *matanya berkaca-kaca

Ummi : Fia dapet uang darimana Nak? Kok tabungannya sebanyak itu?

Fia : Dari uang jajan Fia, mi. Kalo abi kasih uang juga Fia tabung, mi *dengan muka yang sangat polos

Subhanallah, merinding saya dengernya. Bisa dibayangkan ya betapa haru dan bersyukurnya temen itu punya anak seperti Fia. Tertampar ga? Saya inget, se umur Fia dulu, belum terbersit keinginan untuk ber qurban. Seorang Fia, yang masih kecil, sudah mampu untuk me manage keuangannya dengan menyisihkan uang jajannya, menahan dirinya berbulan – bulan agar bisa ber qurban. Berapa sih uang saku anak SD? Tidak sebanyak kita sekarang tentunya…

Berpikir, kita bisa menghabiskan ratusan ribu hingga ada yang sampe berjuta uang untuk membeli keperluannya. Sementara, azzam ber qurban belum ada di diri. Tidak malukah kita? #talk to my self juga ini

Bahkan seorang istri tukang becak pun, mengumpulkan koin demi koin, lembar demi lembar dari penghasilan suaminya, sampe beberapa tahun hingga akhirnya dia bisa berqurban. memenuhi azzam nya untuk ber qurban. Betapa suatu keinginan itu memang harus disertai dengan ikhtiar untuk merealisasikannya? 🙂

Belajar itu bisa darimana saja kawan, termasuk dari Fia kecil yang masih belum baligh. Selamat menyambut makna Idul Adha yaaa, persiapkan diri jugaaa untuk beribadah kepada-Nya…

Sendiri? Melaju saja, bismillah

Pernah membaca untaian kalimat Imam Hasan Al Bashri?

Orang beriman itu, di dunia seperti orang asing. Tidak gelisah dengan kemiskinannya, tapi tidak terkejar kemuliaannya. Orang-orang punya keadaannya, dan dia punya keadaannya sendiri”

Sungguh beruntung jika kita mampu menjadi orang seperti itu. Tentu di dalam perjalanan ini, banyak kejadian demi kejadian yang kita jumpai. Seperti kata banyak orang, setiap masa itu ada kisahnya. Yang nanti akan menjadi bagian episode perjalanan dari setiap orang. Yang terpenting dari kisah ituadalah apakah kita bisa menyertai perjalanan ini sebagai seorang Muslim.

Menurut saya, ini bukan merupakan sebuah hal yang sederhana. Bukan hanya sekedar kita bisa menaklukkan tantangan-tantangan baru yang ada di depan kita, bagaimana kita tetap bisa survive dalam menjaladi episode kehidupan ini. Tidak ada artinya jika kemusliman kita dalam kondisi diam.

Terkadang kita ada di posisi yang tidak sesuai dengan kemusliman kita. Tetapi seharusnya kita bisa mempunyai sikap yang benar, tegas, dan sesuai dengan status kemusliman kita. Di depan kita pasti sudah terhadang peta yang sangat luas. Dalam menjelajah peta itu, akan ada 3 unsur yang mempengaruhi perjalanan kita dalam melajukan kemusliman kita, yaitu : diri kita sendiri, lingkungan kolektif yang mempengaruhi, dan Islam itu sendiri (mungkin bisa jadi ada yang lain).

Mungkin, suatu saat kita akan dihadapkan pada kondisi dimana kita harus berlari sendiri dalam menjaga sebuah kemusliman. Padahal mungkin jika bisa berlari bersama maka akan sangat terasa ringan. Karena kita bisa saling menopang, mendukung dan menguatkan. Semakin terjaga kemusliman kita. Tetapi, tidak setiap kondisi kita bisa melajukan kemusliman kita secara bersama-sama. Susah, tapi harus dicoba 🙂