Kubah

Kubah Judul : Kubah

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Ahmad Tohari, saya baru pertama kali ini membaca karyanya. Bahkan buku nya Bekisar Merah dan Ronnggeng Dukuh Paruk nya pun saya belum baca. Ini sih memang karena ga punya 🙂 Ya, Ahmad Tohari. Saya suka dengan buku anda ini. Agak jarang buat saya membaca buku yang ada unsur sejarahnya.

Kubah, menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Karman. Seorang mantan tahanan yang baru keluar dari Pulau Buru setelah 12 tahun lamanya. Penuh keraguan, akan kemana dia melangkah. Ingin kembali ke tempat asalnya, Pegaten, tetapi dia tidak memiliki keyakinan apakah masyarakat masih sudi menerima dirinya. Istrinya yang sangat dicintainya pun, kini sudah menjadi istri orang lain.

Novel tipis ini menuturkan secara flashback perjalanan Karman, inilah yang menjadikan buku ini agak special menurut saya. Perjalanan bagaimana seorang Karman, anak dan pemuda yang dulunya rajin ke masjid, pintar, akhirnya termakan oleh propaganda politik pada tahun 1950 – 1960an. Bagaimana seorang Karman akhirnya menjadi seorang yang berkiblat kepada Lenin, komunis. Ahmad Tohari menceritakannya dengan sangat baik. Dari tulisannya, saya menangkap bahwa para penganut komunis itu sendiri adakalanya tak mengerti dengan konsep komunis yang sebenarnya. Mereka hanya orang – orang pintar, tetapi akhirnya bisa dimanfaatkan dan termakan oleh propaganda ini. Begitulah yang terjadi dengan seorang Karman.

Ahmad Tohari menggambarkan dengan detail di novel tipis ini, seperti apa lokasi kejadian, bagaimana proses penangkapan para komunis ini. Saya sempat merasa seperti ada di sana menyaksikan kejadian demi kejadian.

Ah akhirnyaaa. Ahmad Tohari menutup novel ini dengan 4 ayat terakhir Surah Al Fajr yang tertulis dengan kaligrafi indah di leher Kubah yang dibuatnya…

Hai jiwa yang tentram, yang telah sampai kepada kebenaran hakiki. Kembalilah engkau kepada Tuhan. Maka masuklah engkau ke dalam barisan hamba – hamba Ku. Dan masuklah engkau ke dalam kedamaian abadi, di surga-Ku.

Kubah itu dibuat Karman untuk mengembalikan apa yang hilang dari dirinya. Sebuah kubah masjid di desa nya, yang dia buat tanpa mengharapkan upah se-sen pun. Dia berharap jika dia dapat memberikan sebuah kubah yang bagus kepada orang – orang Pegaten, dia berharap memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu!

5 bintang untuk kubah 🙂

Kisah Seorang Istri Teladan

Ada sedikit kisah yang mungkin bisa menjadi pelajaran untuk kita. Kisah ini saya baca di FB, tampaknya sudah di share banyak orang. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat buat kita semua 🙂

********************

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.

“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Surat Dahlan

Surat DahlanJudul : Surat Dahlan

Penulis : Khrisna Pabichara

Penerbit : Noura Books

Pak Dahlan,,, membaca prolog di buku ini entah kenapa ada yang terasa bergetar di diri saya. Membayangkan anda usai menjalani operasi transplantasi hati. Sakit. Dimana mengeluh pun anda tak mau. Karena dengan terus menerus mnegeluh, itu akan menambah rasa sakit. Nice 🙂

Ya, ini buku ke-2 dari novelisasi kehidupan Dahlan, setelah buku pertamanya Sepatu Dahlan.

Jika anda sudah membaca ke-dua buku novelisasi kehidupan pak DaIs ini, anda akan tahu dimana perbedaannya. Kalo Sepatu Dahlan menceritakan kehidupan DaIs ketika masih kecil di Kebon Dalem, bagaimana dia kehilangan ibu yang sangat dicintainya, dan  kehidupannya hingga bangku SMA. Maka, di buku Surat Dahlan ini, anda tak akan menemukan itu. Buku ini menceritakan kehidupan Dahlan di bangku kuliah di Samarinda hingga nantinya dia bisa duduk di Jawa Pos. Dahlan yang sedang mencari cinta dan jati diri *itu yang saya tangkap 😀

Anda tahu kenapa judul novel ini Surat Dahlan? karena di buku ini banyak sekali surat – surat yang diterima Dahlan dari Aisha, kekasih hatinya sejak di Kebon Dalem. Saya sempet bingung bacanya, hehehe dan tidak menikmatinya *subyektif loh ya…

Pak Dahlan, yang saya tangkap di sini, tampaknya hatinya sedang berontak. Di bangku kuliah, Dahlan seperti orang yang tak kerasan,  berpikir bagaimana nasib cinta dan masa depannya.  Ruang hatinya masih dipenuhi nama Aisha, tetapi di sisi lain dia juga tak yakin dengan masa depannya bersama Aisha. Dahlan lebih suka berada di organisasi PII (Persatuan Islam Indonesia) daripada harus duduk manis di kelas perkuliahan. Di sini lah sebenarnya bagian yang seru, bagaimana Dahlan dan teman – temannya demo dan dikejar – kejar aparat, hingga ada 2 orang temannya yang tertangkap polisi. Tetapi ku rasa ada bagian yang hilang setelah bagian ini. Khrisna tak menceritakan seperti apa dampak psikologis yang diterima Dahlan dan teman – temannya akibat kejaran dan penangkapan aparat.

Sampe pada Dahlan akhirnya memutuskan untuk menikahi seorang wanita yang nantinya akan membawa kesuksesan dirinya. Dan itu bukan Aisha. Tetapi Nafsiah, teman ketika di PII 🙂

Novel ini juga menceritakan bagaimana akhirnya Dahlan berkiprah di Tempo, hingga kemudian Jawa Pos. Dengan semua perjuangannya.

Khrisna ingin menggugah hati kita dengan kehidupan masa muda Dahlan. bagaimana perjuangannya untuk menjadi sukses. Tetapi, i think Sepatu Dahlan lebih inspiratif, lebih ngena di hati 🙂 Ah terlepas dari itu, Dahlan tetaplah sosok yang luar biasa yang saya lihat !!! Bintang 3 untuk Surat Dahlan.

Menunggu buku yang ke-3 dari novelisasi kehidupan Dahlan…

Bismillah, Kami Menikah

Bukan sebuah kisah yang menakjubkan. Tapi ini adalah bagian dari perjalanan, sebuah bagian yang mengubah banyak hal. Hal yang baik tentunya 🙂

14 Desember 2010

Di sana kami bertemu, Prodia Jakarta. Bukan, bukan karena kami sama2 pasien yang tengah sakit. Tapi kami sama2 tengah menjalani salah satu step dalam memasuki sebuah perusahaan listrik. Biasa kan ngobrol bareng2 bergerombol berbagi pengalaman, di dalem diapain aja sama dokter, sembari nunggu giliran kami masing – masing. Sungguh, kami tidak langsung kenalan. Dia bersama gerombolannya, dan saya juga bersama gerombolan saya. Tetapi tak tau, tiba2 dia muncul, mungkin tertarik dengan pembicaraan kami yang memake bahasa jowo 😀 ngobrol ngobrol ngobrol, dia kenalan sama masing2, dan tiba lah giliran ku. hihihi…

Saya : Emang darimana asalnya?

Dia : Surabaya, kamu?

Saya : Walah tetangga, tapi saya Lamongan..

Dia : Oooh , kuliah dimana dulu? Unair? (ini nih yang masih teringat sampe sekarang :p)

Saya : Engga, UI…

hanya sebatas itu obrolan kami. Oiya, ada satu lagi. Dia bertanya pada saat itu aku sedang kerja dimana.

Aku nomor urut 25, dan dia 30an (akhir2). Jadi wajar kalo saya meninggalkan Prodia duluan. Tanpa babibu, tanpa merasa kami harus bertukar nomor telepon. huehehe…

16 Desember 2010

Kami berteman di fb. Saya, dia, dan beberapa teman lain segerombolan saat di prodia. Just that 🙂

19 Januari 2011

Adalah jadwal dimana para peserta yang lolos medical check-up harus melanjutkan tahap test yang namanya interview user. Pada hari itu, saya baru tau jika dia juga sebenarnya lolos untuk mengikuti tahap wawancara, tetapi dia tak datang. kabarnya dia sudah diterima di perusahaan lain. hihihi…

Ya, dan kami hanya sekali bertemu di Prodia. Setelahnya ya bye bye. hehehe… Ditambah Jakarta dan Surabaya, sangatlah kecil kemungkinan kita akan ketemu papasan di jalan, dsb. Tidak pernah terlintas kami akan janjian untuk ketemu kapan dan dimana. Hingga sampai pada…

19 April 2011

Saya akhirnya harus meninggalkan Jakarta. Bukan, bukan untuk menemui dia. Wong kami ga ada apa2 sama sekali. Kabar2 juga enggak, hanya mungkin sesekali kami comment di status fb, sesekali dan itu pun tidak ada indikasi ke arah muda mudi yang saling suka (protes2 ini suami saya kalo baca, hakhak :P). Tapi karena saya harus menuju tempat dimana perusahaan menempatkan saya dalam bekerja 🙂

25 September 2011

Wiken itu saya memang ke Surabaya, silaturrahim ke salah seorang sahabat dekat waktu SMA. Berangkat dari Pasuruan Sabtu dini hari. dan dijemput sahabat di terminal dengan motornya. Hingga kemudian, hari Ahad sore saya harus kembali ke Pasuruan.

Sungguh, tidak ada sedikitpun agenda saya untuk ketemu dengan si dia (yang sekarang adalah suami). Karena, murni dari awal niat saya hanya akan meripresh sejenak otak bersama sahabat. Tapi percayakah? Saya bertemu dengan dia di ruang tunggu terminal tersebut pada saat akan kembali ke Pasuruan hari Ahad malam. Just that. Bertemu, sharing, wajar kan pernah kenal terus tetiba bertemu lagi. Kami ngobrol, banyak hal, tetapi tidak ada tendensi ke arah suka suka an. Ternyata saya memang orang yang ga peduli banget yah, hihihi kebiasaan kalo sama cowok ya memang super duper cuek 😀 Saya baru tau bahwa saat itu, dia tengah menempuh pendidikan profesi dan magister akuntansi di sebuah kampus negeri di Malang. Ah, memang hanya itu. Hanya sebuah silaturrahim biasa. Saya pulang ke Pasuruan, karena tak mau juga sampe kostan kemalaman. Saya hanya berpikir, alhamd dipertemukan lagi dengan salah seorang saudara di sini. Semoga apapun yang sedang dia hadapi semuanya lancar 🙂 Itu do’a saya pada saat itu.

Februari 2012

Di bulan ini  kami memang sesekali berkirim kabar. Mungkin background pendidikan kami yang sama. jadi terkadang apa yang sedang dia bahas, mengingatkanku kembali pada cita2 ku untuk kembali ke kampus.

Juni 2012

Akhirnya halaman rumahku pun menjadi saksi akan datangnya calon penghuni baru di rumah kecil itu. Kuperkenalkan ke ibu bapak, siapa orang yang akhirnya aku pilih, calon menantu mereka. Bukan, berharapnya dia bukan orang yang akan membawaku pergi dari ibuku. Tapi justru dia akan menjadi anak ibuku juga yang senantiasa sayang seperti layaknya kepada ibunya sendiri. Semoga dia yang terbaik 🙂

27 Oktober 2012

Dia datang bersama keluarganya, dan mulai hari itu, resmi, tidak ada yang boleh melamarku tanpa mendapatkan kerelaan dia 🙂

16 Maret 2013

Bismillah, kami menikah 🙂 Bahkan sampe kini pun kami masih geleng2, kamu siapa saya siapa. Dulu kami bukan siapa2. Dan satu dua pun di antara 2 keluarga ini saling kenal, oh ternyata kenal ini juga, itu juga, dll… Ya, dan banyak orang bilang “kalo memang sudah jodoh itu ga ada yang tahu ya jalannya seperti apa”. saya yang anti cowok sebelumnya, takluk juga akhirnya dengan dia. hihihi

Baru saja pelayaran ini dimulai, menuju mardhotillah. Bersamanya, my wonderful man 😉

Untuk teman2, tak usah takut menikah. Allah akan mencukupkan rizki kita, tak perlu khawatir. hehehe…

Review Buku : Memory (Windry Ramadhina)

Memori Pertama kalinya baca karya Windry Ramadhina, dan saya harus geleng – geleng. Super !!! Saya langsung jatuh cinta dengan gaya menulisnya. hihihi… Tampaknya saya akan menjadi orang yang berburu buku – buku Windry (terus ini kalo suami saya baca mesti geleng2 trus bilang “bukumu udah numpuuuuk”. Piss 😀 )

Memori, buku ini mengingatkanku dengan bacaan waktu SMU, “Diorama Sepasang Albana”. Bukan dari ceritanya. Tapi dari dunia arsitek yang digambarkan di novel ini. Dunia arsitek dipaparkan Windry dengan ahli nya, anyway mba ini angkatan berapa yah, kok ga pernah nemu di kampus padahal tetanggaan fakultasnya? hihihi…

Adalah Mahoni, seorang arsitek lulusan UI yang lari ke Virginia demi melupakan masa lalunya dan memulai karirnya. Bisa dibayangkan bagaimana dia “bekerja” di benua Amerika. 4 tahun dia berkarir di benua tempat arsitek idamannya, Frank O. Gehry.  Tetapi, Mahoni harus pulang ke Indonesia karena kecelakaan yang menimpa papa dan Grace (ibu tirinya). Mahoni tidak punya pilihan. Rumah papa meninggal kan seorang Sigi, adik tiri Mahoni, yang masih berumur 16 tahun. Hingga dia terpaksa harus tinggal selama 2 bulan di Indonesia. Akankah hanya 2 bulan? Let we see 😀

Di rumah nya, masa lalu nya kembali muncul ke permukaan. Kenangan demi kenangan muncul di pikirannya. Kenangan yang tidak manis. Perpisahan antara papa dan Mae (ibu kandungnya). Bayang – bayang Grace ada di rumah itu dan yang terpikir adalah kebencian. Dan tentu berpengaruh pada ketidaksukaannya pula pada anak papa dan dan Grace, Sigi. Tapi bagaimanapun, mereka kakak adik, satu ayah. Ada sedikit saling sayang di antara mereka 🙂

Muncullah Simon, seorang pria yang pernah ada di dekatnya semasa kuliah dulu. Pria yang pernah mencintainya dan dia cintai. Tapi, Simon sudah punya Sofia, dan mereka memiliki sebuah studio MOSS. Lengkap deh. Tetapi, MOSS membuat Mahoni tampaknya bisa menata kebenciannya pada Grace, dengan ikut mengerjakan beberapa proyek MOSS.

Simon, berbeda dengan Mahoni yang mengagumi Frank O. Gehry. Simon sangat memuja arsitek Eropa, Rem Koolhaas. Mahoni mengakui bahwa Simon adalah seorang partner diskusi yang luar biasa, tidak diragukan kemampuannya. Dengan jeans dan kaos sablonan yang menjadi khas nya.

Masa lalu membuat Mahoni berada di bawah bayang – bayang Mae. Mae yang pernah mengajaknya pergi dari rumah papa. Sebagai orang yang tersakiti. Mae yang tidak percaya lagi dengan suatu hubungan. Menganggap bahwa sama saja, pria akan bersikap manis saja di awal, tapi setelah itu dia akan berubah 🙂 Membuat Mahoni membenci semua tentang papa nya dan tentu saja Grace.

Lantas bagaimana dengan Simon, Sofia dan Mahoni? Simon memilih Mahoni. Dan Sofia sudah memperkirakan itu akan terjadi 🙂 Tetapi Sofia bukan lah Mae, tenggelam dalam masa lalu, membenci semua yang pernah ada di antara sepasang manusia yang mempunyai hubungan. Sofia menjadikan kisah nya dengan Simson adalah kenangan manis yang pernah ada. Hal itu menjadikan dia tetap bisa berpartner dengan Simon dalam bekerja 🙂

Haa, novel ini utuh banget 😀 sukaaaa. Tidak banyak kata2 romantis layaknya buku umumnya, jempol deh. Bintang 5 untuk novel ini. mari berburu buku Windry yang lain 🙂

Review Buku : Simply Love

Simply LoveSesuai ekpektasi, buku ini selesai dalam sekali duduk. Selesai ku baca dalam bis Pasuruan – Malang. Mba Ifa, seperti buku facebook on love, ceritanya mengalir tanpa hambatan. Membaca buku ini berasanya seperti ngedengerin curhatan.

Adalah Keke dan Wim. Dua orang yang sudah bersahabat dari kuliah. Yang akhirnya menikah. Wim yang seorang doktor  mengharuskan istrinya diam di rumah, mengurus anak dan tidak perlu kerja di luar rumah. Keke? seorang istri yang masih mempunyai impian – impian.

Sekarang masih ada ga ya suami yang seperti itu? xixixi… Ya tapi ku pikir, boleh aja siih suami kayak gitu. Cuman pertimbangannya ya tentu yang logiiiis. Tinggal dikomunikasiin aja berdua gitu 🙂

Hmm hmm hmm sebagai orang yang belum menikah, aku jadi terbayang kehidupan rumah tangga deh 😀 Mba Ifa menceritakannya dengan sangat baik ku pikir. Cinta itu bentuknya macem – macem kali yah. Setiap orang mungkin bisa mengungkapkan cinta dan sayang nya dengan cara yang berbeda kali yah #agak sotoi dikit. namanya juga belum menikah :p

Kurang romantic itu bukan berarti juga kalo pasangan kita ga sayang kali ya. Kita? bukan deh, anda2 semua yang sudah menikah kali ya 🙂

Ekspresi cinta kan tidak harus sama persis seperti orang lain gitu. Cukup mengerti dan mengenali dengan baik bagaimana pasangan kita nantinya 😀

Entah ya, suka aja sama si Keke. Taat sama suami. Ga lega aja gitu rasanya kalo mewujudkan impian tapi tanpa ridho suami. Meskipun agak depresi gitu jadinya. hihihi…

Cintai pasangan kita dengan kadar yang cukup, maka dia tak akan membuatmu mabuk, dan tak akan juga membuatmu merasa kering. Cinta yang seperti itu akan membuat pasanganmu lebih beruntung memilikimu. Cinta yang akan menopang semua mimpi kalian dan menguatkan kalian yang lemah. Tuhan akan memberkati cinta yang wajar seperti itu, sebab Dia pun tak lagi merasa cemburu pada kalian, dan malah akan senang menuntun kalian…

Ah, akhirnyaaaa, ditunggu ya mba Ifa karya berikutnya. Terlanjur suka sama tulisannya Mba Ifa. Tampak seperti curhatan tapi bisa diambil hikmah oleh semua orang yang membacanya 🙂

Review Buku : Life Traveler

Life TravelerYes, cover buku ini cantik sekali. Ditambah lagi gambar – gambar yang ada di dalamnya. 5 bintang deh untuk 2 hal ini.

Mba Windy, menuturkan perjalanannya dengan apik menurutku. aku menikmatinya. penulis membawaku seolah ada di dalamnya. Dia juga mengajari kita makna dari setiap perjalanan 🙂

Dari Vietnam hingga ke Belanda. Penulis menuturkannya dengan enjoy.  Yang paling sya suka itu perjalanan Windy ketika di Pariiiiis. Karena saya sudah jatuh cinta dengan nya dari jaman saya mengenal Paris di buku. Bukan, bukan karena dunia shoppa shoppa nya 😀 Di buku ini saya mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai suatu negara. Dan semakin mupeeeng, kapan saya bisa ke sanaaa yaaa? *boleh donk mimpi

Berkemas selalu membuat saya memiliki harapn. Setiap kali menyusun barang – barang yang saya bawa, saya seperti menyusun cerita baru. Seperti membayangkan tahap demi tahapnya, satu demi satu. Saya berharap ada cukup ruang untuk kejutan – kejutan yang nanti akan saya temukan di sana.

Musim dingin itu justru mengakrabkan. ia membuat siapa saja pulang dan berdiam. Mereka yang pergi dan terpisah ribuan mil akan kembali berkumpul. Berkumpul di rumah. menciptakan kedekatan. berbagi kehangatan…

Menunggu memang seperti sebuah jebakan. Bersembunyi di antara sela – sela waktu yang tak terduga. Ketika saya ingin bergegas, ia justru membuat saya harus memelankan langkah. Meminta saya melihat sesuatu dengan lebih jeli. Memberi saya sedikit ruang untuk menarik napas dan menikmati apa pun tanpa tergesa.

akhirnya, sampailah pada tujuan akhir dari sebuah perjalanan itu sendiri : pulang

Jadinya, 4 bintang untuk buku ini. hehehe soalnya ada beberapa bagian dan foto yang agak tidak berkenan di hati 🙂 Overall, saya suka buku ini…